PEMANFAATAN MEDIA AUDIO VISUAL SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN
BAHASA INGGRIS ANAK USIA DINI
(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas di TKIT Mutiara Hati Klaten)
Disusun oleh:
MILA FAILA SHOFA

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan ketrampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup. Aspek yang dikembangkan dalam pendidikan prasekolah adalah aspek pengembangan perilaku dengan pembiasaan meliputi sosial, emosi, kemandirian, nilai moral dan agama, serta pengembangan kemampuan dasar, yang meliputi pengembangan bahasa, kognitif, seni, dan fisik motorik.
Anak usia dini merupakan masa keemasan (golden age), oleh karena itu pendidikan pada masa ini merupakan pendidikan yang sangat fundamental dan sangat menentukan perkembangan anak selanjutnya. Apabila mendapatkan stimulus yang baik, maka seluruh aspek perkembangan anak akan berkembang secara optimal. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini harus dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak baik perkembangan perilaku, bahasa, kognitif, seni maupun fisik motorik.
Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dengan bahasa. Ia harus mampu menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Dengan mampu menggunakan bahasa, mereka akan mudah dalam bergaul dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan
manusia (Suhartono, 2005: 12). Dengan demikian perkembangan bahasa harus dirangsang sejak dini.
Pemerolehan bahasa pada anak usia dini terdapat 2 tahapan yaitu pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua (bahasa asing). Yang dimaksud pemerolehan bahasa pertama adalah bahasa pertama yang diperoleh dan dipahami anak dalam kehidupan dan berkomunikasi di lingkungannya. Bahasa pertama sering disebut juga bahasa ibu, karena anak pertama kali berintaraksi dan belajar dengan ibu. Sedangkan bahasa kedua/ asing adalah bahasa anak yang diperoleh setelah bahasa pertama. Bahasa kedua anak di Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia dan asing. Pemerolehan bahasa Indonesia diperoleh anak dalam lingkungan kehidupannya dan di sekolah. Pemerolehan bahasa asing pada umumnya melalui pendidikan informal maupun formal (Suhartono, 2005: 85)
Isu globalisasi saat ini menuntut sumberdaya manusia yang berkualitas dan mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing terutama Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Keahlian berbahasa asing ini diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan, memiliki pergaulan luas dan karir yang baik. Hal ini membuat semua orang dari berbagai kalangan termotivasi untuk mengusai Bahasa Inggris.
Selama ini program Bahasa Inggris dimulai di SMP berarti semua lulusan SMU/ SMK/ MA telah belajar Bahasa Inggris selama 6 tahun. Kenyataanya menunjukkan bahwa setelah 6 tahun belajar Bahasa Inggris, lulusan belum dapat memanfaatkan keterampilan berbahasa Inggrisnya pada waktu mereka belajar di Perguruan Tinggi. Mungkin bila dimulai sejak dini, maka jangka waktu belajar Bahasa Inggris ini menjadi lebih lama. Berarti secara teoritis pemerolehan
belajarnya diharapkan akan lebih baik dan dapat memanfaatkan keterampilannya untuk membaca buku referensi di Perguruan Tinggi.
Dalam beberapa tahun terakhir ini pemerintah mencanangkan pendidikan yang berbasis Internasional di berbagai jenjang pendidikan seperti SD, SMP, maupun SMA. Di sekolah berbasis Internasional ini pembelajaran di sampaikan dengan pengantar Bahasa Inggris. Hal ini merupakan bentuk kesadaran pemerintah akan pentingnya Bahasa Inggris dan peran sumber daya manusia yang memiliki keandalan dalam berbahasa Inggris. Kebijakan Depdikbud RI Nomor 0487/14/1992 Bab VIII menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, dengan syarat pelajaran ini tidak tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan Nasional. Kebijakan ini kemudian ditindak lanjuti melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris lebih dini sebagai satu mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar. Kebijakan tentang program bahasa Inggris ini selanjutnya ditindaklanjuti oleh beberapa propinsi, bahkan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur mengeluarkan Surat keputusan Nomor 1702/105/1994 tanggal 30 Maret 1994 yang menyatakan bahwa mata pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal pilihan menjadi mata pelajaran muatan lokal wajib.
Karena pentingnya penguasaan bahasa asing tersebut apalagi bahasa Inggris merupakan mata pelajaran muatan lokal wajib di sekolah dasar, maka seyogyanya Bahasa Inggris dikenalkan sejak usia prasekolah khususnya pada lembaga pendidikan anak usia dini. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa anak lebih cepat
belajar bahasa asing dari pada orang dewasa (Santrock, 313: 2007). Sebuah penelitian yang dilakukan Johnson dan Newport, 1991 (Santrock, 313:2007) menunjukan bahwa imigran asal Cina dan Korea yang mulai tinggal di Amerika pada usia 3 sampai 7 tahun kemampuan Bahasa Inggrisnya lebih baik dari pada anak yang lebih tua atau orang dewasa.
Penelitian lain yang menyatakan kebermanfaatan menguasai bahasa asing lebih dini bahwa anak yang menguasai bahasa asing memiliki kelebihan dalam hal intelektual yang fleksibel, keterampilan akademik, berbahasa dan sosial. Selain itu, anak akan memiliki kesiapan memasuki suatu konteks pergaulan dengan berbagai bahasa dan budaya. Sehingga ketika dewasa anak akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bisa berprestasi. Pemahaman dan apresiasi anak terhadap bahasa dan budayannya sendiri juga akan berkembang jika anak mempelajari bahasa asing sejak dini. Alasannya karena mereka akan memiliki akses yang lebih besar terhadap bahasa dan budaya asing (Mustafa, 2007).
Departemen Pendidikan Nasional menetapkan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan Bahasa Inggris . Dengan demikian, Bahasa Inggris berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dalam rangka mengakses informasi dan sebagai alat untuk membina hubungan interpersonal maupun bertukar informasi.
Salah satu komponen pembelajaran bahasa adalah pemahaman kosakata dari Bahasa Inggris itu sendiri. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran Bahasa Inggris, penulis sering mendapati anak usia dini khususnya pada pendidikan
Taman Kanak-kanak sering mengalami kesulitan dalam penguasaan kosakata Bahasa Inggris. Mereka menganggap bahwa Bahasa Inggris itu sulit karena pengucapanya yang terkesan asing dan jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Anak didik juga terkesan bosan menerima pengajaran Bahasa Inggris karena metode dan media yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode klasikal dan kurang menarik. Melihat kendala-kendala tersebut dan fenomena yang ada di lapangan, maka penulis mencoba mencari berbagai macam teknik dan strategi untuk membantu meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Inggris di Taman Kanak-kanak.
Sesuai dengan prinsip pembelajaran di Taman Kanak-kanak yaitu ”Bermain Sambil Belajar”, oleh karena itu pembelajaran bahasa Inggris di Taman Kanak-kanak juga harus disajikan dengan bermain, menyenangkan, serta menggunakan media yang menarik.
Dengan kemajuan teknologi dalam pendidikan, khususnya pengajaran, manusia berpikir selangkah lebih maju. Murid dapat menerima pesan/ informasi/ pelajaran melalui berbagai cara dan menggunakan berbagai media. Secara umum media yang dapat dipakai untuk interaksi pembelajaran pengembangan bahasa anak yaitu media visual dan media audio (Suhartono, 2005: 147). Anak belajar mengenal lingkungan dan menyerap pengetahuan melalui apa yang dilihat dan dengarnya. Bahkan 55 persen pengetahuan anak didapat dari pengamatan dan pendengaran, sehingga indra penglihatan dan pendengaran merupakan pintu gerbang masuknya ilmu pengetahuan kedalam diri anak. Dengan melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran tersebut, khususnya dengan menggunakan
media audio visual diharapkan dapat menigkatkan penguasaan kosa kata dalam bahasa Inggris pada anak usia dini.
Dari latar belakang diatas bahwa bahasa Inggris perlu diajarkan sejak dini serta harus disampaikan dengan metode dan media yang menarik. Maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pemanfaatan Media Audio Visual sebagai upaya untuk Meningkatkan Penguasaan Kosa kata Bahasa Inggris Anak Usia Dini.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Rendahnya penguasaan bahasa Inggris pada anak usia dini mungkin karena kurangnya pembelajaran bahasa Inggris di usia dini.
2. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang menarik yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan bahasa Inggris kepada anak usia dini.
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih efektif, efisien, terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka diperlukan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Media yang digunakan dalam pembelajaran pada anak usia dini ini hanya terbatas pada penggunaan media audio visual.
2. Masalah yang diteliti hanya terbatas pada penguasaan kosa kata anak dalam bahasa Inggris.
3. Masalah yang diteliti hanya terbatas pada anak usia TK, yaitu anak-anak TK kelompok B di TKIT MUTIARA HATI Klaten.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran dengan media audio visual dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini?
2. Apakah pembelajaran dengan media audio visual dapat meningkatkan penguasaan kosa kata dalam bahasa Inggris pada anak usia dini?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui bahwa pembelajaran dengan media audio visual dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini.
2. Mengetahui bahwa pembelajaran dengan media audio visual dapat meningkatkan penguasaan kosa kata dalam bahasa Inggris pada anak usia dini.
F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat yaitu:
a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan kurikulum di Taman Kanak-kanak yang terus berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dimasa yang akan datang.
b. Memberikan sumbangan ilmiah dalam ilmu Pendidikan anak usia dini, terutama tentang pembelajaran dengan menggunakan media audio visual untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris pada anak usia dini.
c. Sebagai pijakan dan referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan peningkatan penguasaan bahasa Inggris pada anak usia dini serta menjadi bahan kajian lebih lanjut.
2. Manfaat praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut :
a. Bagi penulis
Dapat menambah wawasan dan pengalaman langsung tentang cara meningkatkan penguasaan bahasa Inggris pada anak usia dini, khususnya dengan media audio visual.
b. Bagi pendidik dan calon pendidik.
Dapat menambah pengetahuan dan sumbangan pemikiran tentang cara meningkatkan penguasaan bahasa Inggris anak usia dini, khususnya dengan media audio visual.
c. Bagi anak didik
Anak didik sebagai subyek penelitian, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai pembelajaran secara aktif, kreatif dan menyenangkan melalui media audio visual yang sesuai dengan perkembangan berfikirnya.
d. Bagi sekolah tempat anak belajar.
Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program pembelajaran serta menentukan metode dan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris pada anak usia dini.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Untuk mengetahui keaslian atau keotentikan penelitian perlu dilakukan tinjauan pustaka.
Eka Sugiyati (2007) dalam skripsinya yang berjudul ”Developing Student’s Vocabulary By Using Games, Songs, and Pictures”. Penulis memaparkan bahwa hasil belajar menunjukkan apabila pembelajaran menggunakan gambar, permainan, dan lagu secara terintegrasi lebih efektif untuk mengajarakan kosa kata bahasa Inggris untuk anak-anak TK. Hal ini karena gambar, permainan, dan lagu mendorong anak untuk menikmati pembelajaran dan membantu mereka untuk belajar kosa kata lebih mudah. Disamping itu gambar, permainan, dan lagu membantu guru untuk menangani kelas agar lebih baik dan membuat siswa berlatih mengucapkan kosa kata.
Murni Asmorowati (2007) dalam skripsinya yang berjudul ”Pemerolehan Kosa kata Dasar Bahasa Indonesia Pada Anak Prasekolah”. Penulis memaparkan bahwa (1) Kosa kata dasar bahasa Indonesia dapat diperoleh dari lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar. (2) Bentuk kosa kata dasar pada anak usia prasekolah dapat dianalisis dengan dua bentuk, fonologi dan marfologi tentang pembagian jenis kata antara lain kata benda (nominal), kata kerja (verbal), dan kata sifat (adjektiva), dan numeralia. (3) Faktor yang mempengaruhi pemerolehan kosa kata pada anak prasekolah diantaranya adalah faktor lingkungan dan tempat
tinggal, faktor ekonomi, faktor pendidikan orang tua, serta faktor yang berasal dari anak itu sendiri.
Penelitian oleh Susi Tri Susila (2007) dalam skripsinya yang berjudul ”Teaching Vocabulary Using Montessori Method at TKIT AlFarisy Majalengka”. Penulis menyimpulkan bahwa pengajaran kosa kata bahasa inggris melalui metode montesori lebih efektif dan memperoleh hasil yang bagus. Terdapat beberapa kekuatan yang dapat ditemukan dalam kelas antara lain siswa mempunyai ketertarikan yang tinggi untuk mengikuti proses pembelajaran, siswa terdorong untuk lebih aktif didalam kelas, dan kosa kata akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, dan diingat. Selain itu dapat menghindari kesalah pahaman karena siswa dapat melihat gambarnya dan menggunakannya dalam permainan.
Penelitian oleh Dewa Putu Ramendra dan Ni Made Ratminingsih (2007) yang berjudul ”Pemanfaatan Audio Visual Aids (AVA) Dalam Proses Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris Di Sekolah Dasar ”. Penulis menyimpulkan bahwa baik guru dan siswa memiliki persepsi yang sangat positif terhadap pemanfaatan AVA dalam pembelajaran Bahasa inggris di sekolah dasar oleh karena AVA dapat membuat pembelajaran lebih produktif, lebih menarik, dapat meningkatkan motivasi siswa, dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap pembelajaran, membuat guru lebih efisien memanfaatkan waktu mengajar, dan mampu membuat proses belajar lebih efektif.
Dari penelitian yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dari setiap penelitian yaitu antara lain Eka Sugiyati mengkaji tentang peningkatan kosa kata bahasa Inggris anak dengan permainan, lagu dan gambar. Murni Asmorowati mengkaji tentang pemerolehan kosa kata dasar pada anak prasekolah.
Susi Tri Susila meneliti tentang peningkatan kosa kata bahasa Inggris anak dengan metode Montesori. Dewa Putu Ramendra dan Ni Made Ratminingsih mengkaji pemanfaatan media audio visual dalam pembelajaran bahasa Inggris di SD. Dengan demikian penelitian diatas mendukung penelitian ini. Pada penelitian ini menekankan pemanfaatan media audio visual untuk meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Inggris pada anak usia dini.
Tabel 2.1 Perbedaan variabel-variabel yang diteliti
No
Variabel
Peneliti
Media Audio
visual
Penguasaan
Kosa kata
Bahasa Inggris
Anak usia dini
1
Eka Sugiyati

2
Murni Asmorowati


3
Susi Tri Susila


4
Dewa Putu R


B. Kajian Teori
1. Pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak (English For Young Learners)
a. Pebelajar Muda Usia
Pebelajar muda adalah siswa sekolah dasar yang berusia antara 6-12 tahun. Mereka dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Younger Group (6-8 tahun) dan Older Group (9-12 tahun) (Kasihani K.E. Suyanto, 2008: 15). Sementara itu Scott dan Ytreberg (1990) membagi mereka dalam kelompok level one atau tingkat pemula (5-7 tahun) dan level two (8-10 tahun). Kelompok level two juga bisa disebut beginners jika mereka baru mulai belajar bahasa Inggris pada usia itu.
Adapun anak-anak pada usia preschool atau taman kanak-kanak yang juga belajar bahasa Inggris dikelompokkan dalam kelompok sendiri yaitu kelompok very young learners. (Kasihani K.E. Suyanto, 2008).
b. Karakteristik Pebelajar Bahasa Muda
Menurut Scott dan Ytreberg (1995), guru perlu memfokuskan perhatiannya pada pada karakteristik anak terutama yang berhubungan dengan pengajaran bahasa. Beberapa karakteristik atau ciri-ciri anak usia muda (young learners) antara lain sebagai berikut:
1). Mereka suka belajar sambil bermain.
2). Mereka dapat menceritakan apa yang mereka lakukan dan dengarkan.
3). Mereka dapat berdebat tentang sesuatu hal.
4). Mereka lebih cepat memahami keadaan disekitarnya.
5). Mereka memiliki perhatian dan konsentrasi yang singkat, tidak tahan lama.
6). Mereka selalu merasa senang bermain dan bekerja sendiri, tetapi ada orang lain didekatnya.
7). mereka dapat bekerjasama dengan orang dewasa.
8). Mereka mempelajari bahasa Inggris dengan cara menyimak, menirukan, dan mengucapkan.
9). Mereka tahu ada aturan-aturan yang harus diikuti dan membuat mereka merasa aman dan senang.
10). Mereka sebenarnya belum menyadari untuk apa belajar bahasa asing, walaupun mereka senang dan bersemangat.
11). Anak belajar dengan baik ketika mereka diberi motivasi untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan yang berhubungan dengannya.
Anak pada usia ini dapat bekerja sama dengan temannya dan belajar dari teman. Mereka memiliki pandangan yang pasti tentang apa yang mereka sukai dan mereka tidak sukai. Anak-anak sering dapat mengerti sesuatu yang kita katakan pada mereka bahkan sebelumnya mereka tahu arti kata-kata tertentu. Ekspresi wajah, intonasi, gerakan tangan dan perbuatan tertentu dapat membantu memahami apa yang kita maksud. Anak-anak ini cukup kreativ dalam hal menggunakan bahasa yang masih terbatas. Oleh karena itu penyusunan bahan ajar harus memberikan berbagai macam kegiatan yang bervariasi.
c. Kegiatan Belajar EYL
Kegiatan siswa dalam pembelajaran mencakup semua kompetensi bahasa yang berupa keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing) (Kasihani KE Suyanto, 2008:23). Keterampilan bahasa ini disajikan secara terpadu, seperti apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
1). Listening (Keterampilan Menyimak)
Sebagian siswa EYL, menyimak adalah suatu kegiatan yang sulit karena kosa kata mereka masih sangat terbatas. Kesulitan mereka akan terbantu jika apa yang dsampaikan guru diiringi dengan gerakan tangan, ekspresi wajah dan gerakan tubuh. Hal ini akan membuat mereka termotivasi dari pada jika mereka diminta mendengar
kemudian menulis apa yang di dengar. Apalagi bahasa Inggris tidak mereka dengar di luar kelas dan di rumah.
2). Speaking ( Keterampilan Berbicara)
Dari semua insting yang dimiliki anak sebagai pebelajar muda bahasa Inggris, insting untuk berinteraksi dan berbicara adalah yang paling penting untuk pembelajaran bahasa Inggris. Anak-anak biasanya ingin segera menggunakan bahasa yang mereka pelajari untuk berkomunikasi.
3). Reading (Keterampilan Membaca)
Dalam melaksanakan kegiatan membaca, siswa hendaknya paham tujuan dari kegiatan tersebut, apakah mereka membaca untuk mengerti dari bacaan itu atau mereka harus membaca untuk mendapatkan informasi tertentu saja. Siswa tidak harus mengerti arti kata perkata, yang penting mereka bisa mengerti konteks dari suatu bacaan. Sebaiknya untuk kegiatan membaca dipilih topik yang berhubungan dengan minat anak, sesuatu yang berhubungan dengan lingkungannya, sesuatu yang menarik serta berhubungan dengan topik yang dibahas saat itu. Pengetahuan umum dan perbendaharaan kata yang telah dimiliki serta penggunaan gambar dapat membantu anak dalam mengerti suatu bacaan.
4). Writing (Kegiatan Menulis)
Keterampilan menulis merupakan kelanjutan dari kegiatan terdahulu. Kegiatan itu hendaknya disesuaikan dengan usia dan tingkat kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Inggris. Writing
merupakan keterampilan yang kompleks karena memerlukan kemampuan mengeja, struktur, dan penggunaan kosakata.
Untuk kegiatan belajar bahasa Inggris pada anak usia dini, khususnya di Taman Kanak-kanak lebih dititik beratkan pada kegiatan listening dan speaking. Hal ini dikarenakan untuk kemampuan-kemampuan seperti reading maupun writing belum bisa dikuasai oleh anak, mengingat adanya perbedaan antara tulisan dan pengucapan bahasa inggris, sehingga anak akan mengalami kesulitan, karena belum sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya.
d. Pembelajaran Komponen Bahasa
Dalam pembelajaran bahasa, baik bahasa pertama, kedua, atau bahas asing, pengajaran komponen bahasa merupakan bagian dari program bahasa. Komponen bahasa Inggris terdiri dari tiga hal menurut Kasihani K.E. Suyatno (2008), yaitu:
1). Grammar (tata bahasa)
Tata bahasa merupakan pola dan aturan yang harus diikuti bila kita akan belajar suatu bahasa dengan benar. Istilah structure atau grammar sering dipakai dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk komponen pertama ini. Komponen ini merupakan kerangka bahasa yang harus diikuti agar bahasa bisa diterima.
2). Vocabulary (kosakata)
Kosa kata adalah suatu perbendaharaan kata yang disebabkan untuk adanya unsur serapan atau istilah. Istilah baru dalam pekembangan bahasa dipengaruhi untuk berbagai bahasa kedalam bahasa tertentu
(Budiman, 1987:117). Manfaat dari kosa kata menurut Nurgiyantoro (1987:198) yaitu
(a). Dengan banyak kosa kata yang dimiliki maka dapat dengan cepat menggunakan kata-kata yang sesuai dengan apa yang diinginkan pada situasi tertentu.
(b). Mampu menelaah isi bacaan dengan kosa kata yang dimiliki dan dapat memakai serta menelaah isi bacaan secara menyeluruh dan mendetail.
(c). Mengubah status kehidupan siswa, dengan kosa kata yang dimiliki siswa memperoleh pengalaman yang bijaksana dan luas.
Kosakata (vocabulary) merupakan kumpulan kata yang dimilki oleh suatu bahasa dan memberikan makna bila kita menggunakan bahasa tersebut. Kosakata bahasa inggris yang perlu dikuasai anak usia dini deperkirakan lebih kurang 500 kata.
Pada umumnya anak lebih cepat belajar kata-kata atau kosakata bila ditunjang dengan alat peraga, misalnya gambar atau benda nyata. Dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk anak, terutama untuk bahasa lisan, sering kali guru EYL hanya memberikan kata-kata lepas tanpa diberikan dalam konteks. Pembelajaran kosakata dan tata bahasa Inggris akan lebih baik lagi bila dalam konteks yeng berkaitan dengan dunia anak, agar mudah dipraktikan atau untuk berkomunikasi.
Secara sederhana pembelajaran kosakata dapat dilakukan melalui 4 tahap, yaitu:
(a). Introducing, guru memperkenalkan kata baru dengan ucapan yang jelas dan benar, digunakan gambar atau benda nyata.
(b). Modeling, guru memberi contoh dengan bertindak sebagai model.
(c). Practicing, guru melatih siswa-siswi untuk menirukan dan berlatih.
(d). Applying, siswa menerapkan dalam situasi yang tepat dengan bantuan guru.
3). Pronounciation (pelafalan)
Pelafalan adalah cara mengucapkan kata-kata suatu bahasa. Ucapan bahasa inggris sangat berbeda dengan sistem ucapan bahasa ibu dan bahasa Indonesia.
Adapun untuk pembelajaran komponen bahasa Inggris pada anak usia dini lebih difokuskan pada vocabulary dan pronounciation. Hal ini dikarenakan anak di Taman Kanak-kanak merupakan pebelajar bahasa yang sangat muda sehingga grammar belum dituntut untuk dikuasai oleh mereka. Pronounciation sangat penting untuk ditanamkan sejak dini, karena kita tahu masa usia dini merupakan masa keemasan sehingga penguasaan bahasa pada usia ini sangat mempengaruhi penguasaan bahasa di usia-usia selanjutnya. Oleh karena itu pengajaran pronounciation harus benar karena akan diingat anak pada usia-usia mendatang.
e. Metode Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Anak
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran adalah metode yang digunakan dalam pembelajaran tersebut. Adapun
beberapa metode pembelajaran bahasa Inggris untuk anak dalam Kasihani K.E. Suyanto (2008) antara lain:
1). Listen and Repeat
Dalam teknik pembelajaran ini, guru mengucapkan sesuatu dan siswa hanya mendengarkan. Kemudian guru mengucapkan lagi dan siswa diminta mengulang apa yang diucapkan oleh guru.
2). Listen and Do
Dalam kegiatan ini guru mengucapkan suatu ungkapan atau perintah, siswa mendengarkan baik-baik kemudian siswa melakuakn apa yang dikatakan guru. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari suatu metode pembalajaran bahasa yang dikenal TPR (Total Phisical Response).
3). Question and Answer
Untuk tingkat awal, kegiatan ini dapat dilakukan dengan guru mulai bertanya dan memberi contoh jawabanya. Kemudian siswa menirukan, setelah itu gur bertanya, dan meminta siswa menjawab.
4). Subtitution
Dalam teknik ini guru menghilangkan salah satu bagian kalimat dan meminta siswa untuk mengganti dengan kata lain yag sejenis. Salah satu teknik yang sangat luwes adalah menggunakan ungkapan ”Let’s……..” yang merupakan ajakan kepada siswa untuk melakuakn sesuatu. Hal ini sangat menunjang prinsip dasar pembelajaran bahasa asing ”learnning by doing” (Scott and Ytreberg, 1992).
5). Draw and Colour
Untuk siswa pemula seperti TK maupun SD kelas 1, pembelajaran bahas Inggris dapat ditambah dengan kegiatan menggambar dan mewarnai setelah merekaa mengenal beberapa kata, benda, atau warna.
6). Listen and identify
Guru dapat melatih siswa dua bunyi yang hampir sama dengan cara yang menarik. Misalnya eat dengan it, pen dengan pan, dll.
7). See differences
Kegiatan ini melatih siswa melakukan observasi untuk menmukan persamaan atau perbedaan dua benda atau gambar. Hal ini melatihketelitian dan dapat menyenangkan anak.
8). Kegiatan berpasangan (In-Pair)
Kegiatan yang dilakuakan oleh siswa secara berpasangan atau berdua dapat melatih siswa berintarksi dan berkomunikasi. Kegiatan ini bisa juga bisa berupa kegiatan question-answer.
9). Diskusi kelompok (group discussion)
Kegiatan diskuksi kelompok dapat melatih siswa untuk belajar mendengarkan pendapat orang lain dan mengemukakan pendapat kepada kelompok. Dalam kegiatan ini memberikan suatu masalah yang harus dipecahlan dalam kelompok tersebut.
10). Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)
Anak dapat belajar dari temannya melalui cooperative learning. Dalam kelas EYL, kelompok dapat bekerja sama untuk membuat laporan atau tugas yang diberikan guru, seperti puzzle, teka-teki, dll.
11). Questioning and Inquiry
Kegiatan inquiry diawali dengan kegiatan pengamatan kemudian bertanya, lalu ia menganalisis dan akhirnya membuat kesimpulan. Semua kegiatan in dilakukan anak secara individual (mandiri) maupun bersama-sama dengan teman.
12). Pemodelan dan demonstrasi
Pemodelan merupakan strategi untuk memberi contoh kepada siswa bagaiman mereka melakukan, belajar, dan membuat sesuatu. Pemodelan di kelas EYL umumnya dapat berupa pronunciation drill.
13). Concept Mapping
Concept mapping biasanya digunakan untuk melatih siswa mengaitkan suatu konsep atau sesuatu yang sudah diketahui dengan konsep lain atau hal-hal lain yang erat hubungannya.
14). Brainstorming
Brainstorming merupakan strategi yang dapat dipakai untuk mengaktifkan siswa. Bila guru minta seluruh kelas memberikan ide atau menyebutkan contoh sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat maka guru melakukan brain storming.
15). Outdoor Activity
Kegiatan diluar kelas dapat memperkaya perbendaharaan kosa kata anak-anak sebab ada hal-hal yang tidak atau belum diajarkan dikelas.
f. Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran EYL
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran pada English Young Learners (EYL) menurut Kasihani K.E. Suyanto (2008) antara lain:
1). Bahasa Ibu
Insting, karakteristik, dan ketrampilan dalam mempelajari bahasa ibu atau bahas pertama sangat membantu anak dalam mempelajari bahasa baru, dalam hal ini bahasa Inggris. Ada persamaan antara pola pembelajaran bahasa ibu dan bahas asing, tetapi banyak pula perbedaan terutama dalam hal ejaan, ucapan termasuk tekanan dan intonasi, struktur dan kosa kata. Perbedaan ini dapat mempengaruhi proses belajar bahasa asing bagi anak-anak. Tidak jarang bahasa pertama menjadi penghambat dalam mempelajari bahasa asing.
2). Bahan Ajar
Pemilihan materi sebagai bahan ajar dengan teknik pembelajaran yang sesuai dengan usia dan minat anak akan menyenangkan siswa EYL. Bahan ajar hendaknya dapat merangsang siswa belajar aktif dengan tujuan yang jelas dan bermakna dengan instruksi jelas. Latihan, tugas, dan kegiatan belajarnya harus melibatkan siswa. Pilihan kata dan tingkat kata kesulitan tata bahasa perlu disusun secara runtut, dari yang mudah ke yang lebih sukar.
3). Interaksi Sosial
Komunikasi antara siswa dan guru serta siswa yang hangat akan memberikan rasa aman pada pebelajar pemula dan meningkatkan rasa percaya diri dalam mempelajari bahasa baru. Interaksi sosial membantu anak untuk menggunakan bahasa dan membuat mereka untuk saling balajar.
4). Latar Belakang Keluarga
Faktor latar belakang keluarga atau sosial juga dapat menunjang atau menghambat keberhasilan anak belajar bahasa Inggris. Tersedianya kamus, buku, dan fasilitas lian di rumah serta support orang tua juga mmepengaruhi proses belajar bahasa asing.
5). Media Pembelajaran
Pembelajaran EYL akan lebih efektif jika guru menggunakan media untuk menunjang kegiatan pembelajaran karena anak-anak menyukai hal-hal yang bersifat visual. Penggunaan alat bantu ajar atau media yang berbentuk benda nyata, gambar, puppets, dan miniatur penyajian materi lebih menarik dan menyenangkan.
2. Media Pendidikan
a. Pengertian Media Pendidikan
Menurut Heinich, Molenda, Russel (dalam Cucu Eliyawati 2005:104) media merupakan alat saluran komunikasi. Istilah media itu sendiri berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata ”medium” yang secara harfiah berarti ”perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Para ahli tersebut mencontohkan media ini seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed material), komputer dan instruktur. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan sebagai media pendidikan jika membawa media pesan-pesan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Dalam proses pendidikan terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari tema atau
topik kegiatan belajar. Pesan-pesan tersebut disampaikan oleh guru kepada anak melalui media dengan menggunakan prosedur kegiatan belajar tertentu yang disebut metode.
Dibawah ini terdapat beberapa pengertian media pendidikan menurut beberapa ahli (Cucu Eliyawati: 105), yaitu sebagai berikut:
1) Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan (Sachramm, 1977)
2) Sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pendiidkan seperti buku, film, video, slide, dan sebagaianya (Briggs, 1977)
3) Sarana komunikasi dalam bentuk certak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969)
Setelah mencermati beberapa pengertian diatas, ternyata yang disebut media pendidikan itu selalu terdiri atas dua unsur penting, yaitu peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (massage/ software). Unsur pesan adalah informasi atau bahan ajar dalam tema/ topik tertentu uang akan disampaikan atau dipelajari oleh anak, sedangkan unsur perangakat kelas (hardware) adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan tersebut.
b. Nilai dan Manfaat Media Pendidikan
Media pendidikan merupakan salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan. Tanpa media maka proses pembelajaran itu tidak akan berjalan secara efektif. Keektifan proses pendidikan akan terjadi apabila ada komunikasi antara sumber atau
penyalur pesan. Dalam hal ini guru sebagai penyalur pesan dan anak sebagai penerima pesan. Komunikasi tersebut efektif menurut Berlo, 1960 dalam Cucu Eliyawai (2005:109), ditandai dengan adanya ”area of experience” atau daerah pengalaman yang sama antara penyalur pesan dan penerima pesan. Media pendidikan dapat memperluas area of experience guru sebagai penyalur dan anak sebagai penerima pesan. Semakin meluas/ melebar daerah pengalaman tersebut, atau semakin mendekati kesamaan, maka komunikasi dalam kegiatan pendidikan semakin efektif. Namun, proses komunikasi tersebut baru terjadi setelah adanya reaksi atau balikan. Dalam hal ini pesan berubah menjadi sumber pesan.
Dari uraian diatas, diketahui bahwa media pendidikan memiliki nilai dan manfaat yang besar. Nilai-nilai media pendidikan dalam Cucu Eliyawati (2005:110) diantaranya:
1). Mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak.
Konsep-konsep yang dirasa sulit dijelaskan pada anak usia dini bisa dikonkritkan melalui pemanfaatan media pendidikan. Misalnya menjelaskan tentang gejala alam terjadinya hujan bisa menggunakan media gambar atau media sederhana lainnya.
2). Menghadirkan obyek-obyek yang terlalu berbahaya dan sukar didapat ke dalam lingkungan balajar. Misalnya menjelaskan tentang binatang buas, guru bisa menggunakan media gambar atau program televisi.
3). Menampilkan obyek yang terlalu besar atau terlalu kecil. Media dapat membantu guru ketika akan menyampaikan gambaran mengenai
sebuah kapal, pesawat, dll. Atau menampilkan obyek-obyek yang terlalu kecil seperti semut, nyamuk, bakteri, dll.
4). Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat.
Dengan menggunakan media film (slow motion) bisa memperlihatkan gerak tentang lintasan peluru, anak panah, dll. Demikian juga gerakan-gerakan yang terlalu lambat seperti pertumbuhan kecambah, mekarnya bunga, dsb dapat diamati dengan menggunakan media tersebut.
Selain keempat nilai media pendidikan diatas masih terdapat pula nilai-nilai lainnya berdasarkan pemanfaatan media pendidikan untuk anak usia dini secara khusus (Cucu eliyawati 2005: 111) yaitu sebagai berikut:
1). Memungkinkan anak berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya.
2). Memungkinkan adanya keseragaman pengamatan atau persepsi belajar pada masing-masing anak.
3). Membangkitkan motivasi belajar anak.
4). Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun menurut kebutuhan.
5). Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi seluruh anak.
6). Mengontrol arah dan kecepatan belajar anak.
Dari nilai dan manfaat media diatas, diketahui bahwa media pendidikan sanga berperan dalam proses pendidikan, terutama untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan penyampaian informasi yang dibawa oleh guru kepada anak-anak.
c. Jenis-jenis Media Pendidikan
Menurut Cucu Eliyawati: 2005, media pendidikan dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu
1). Media visual
Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual) dan media yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visual).
Media visual yang diproyeksikan pada dasarnya merupakan media yang menggunakan alat proyeksi (proyektor) dimana gambar atau tulisan akan tampak pada layar (screen). Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam misalnya gambar diam (still pictures) dan proyeksi gerak misalnya gambar bergerak (motion pictures). Alat proyeksi tersebut membutuhkan aliran listrik dan membutuhkan ruangan tertentu yang cukup memadai.
Media visual yang tidak diproyeksikan terdiri atas media gambar diam/ fotografik, media grafis/ media bukan fotografik, media model/ media tiga dimensi, dan media realia/ model nyata suatu benda.
2). Media audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan anak untuk mempelajari isi tema.
3). Media audio visual
Menurut Amir Hamzah Sulaiman (1985), media audio visual adalah alat-alat yang ”audible” artinya dapat didengar dan yang
”visible” artinya dapat dilihat. Alat-alat audio visual membuat cara berkomunikasi menjadi lebih efektif. Dengan menggunakan media audio visual ini maka penyajian pesan-pesan sesuai dengan tema kegiatan kepada anak akan semakin lengkap dan optimal.
Dibawah beberapa alasan, mengapa kita seharusnya menggunakan alat audio visual menurut Amir Hamzah Sulaiman, antara lain:
a). Alat-alat audio visual mempermudah orang menyampaikan dan meneima pelajaran atau informasi serta dapat menghindarkan salah pegertian. Alat-alat audio visual dapat menyampaikan pengertian atau informasi dengan cara yang lebih konkrit atau lebih nyata dari pada yang disampaikan dengan tulisan atau kata-kata yang diucapkan, dicetak, atau ditulis.
b). Alat-alat audio visual mendorong keinginan untuk lebih mengetahui lebih banyak. Alat-alat audio visual memberi dorongan dan motivasi serta membangkitkan keinginan untuk mengetahui dan menyelidiki, yang akhirnya menjurus pada pengertian yang lebih baik.
c). Alat-alat audio visual mengekalkan pengertian-pengertian yang didapat. Alat-alat audio visual tidak hanya menghasilkan cara belajar yang efektif dalam waktu yang lebih singkat, tetapi apa yang diterima melalui alat-alat tersebut lebih lama dan lebih baik tinggal dalam ingatan.
d). Sekarang orang-orang gandrung menggunakan alat audio visual. Akibat dari uraian diatas, sekarang orang banyak mengunakan alat-
alat audiio visual. Karena situasi keseluruhan didunia ini sudah sedemikian rupa, sehingga siapa yang ingin mencapai orang banyak dengan pesannya harus menggunakan alat-alat audio visual.
Menurut paparan diatas, terdapat 3 jenis media pendidikan yaitu media visual, media audio, dan media audio visual. Adapun penggunaan masing-masing jenis media disesuaikan dengan kebutuhan atau juga dapat disesuaikan dengan informasi yang akan disampaikan oleh guru. Media audio visual dianggap lebih baik dalam penyampaian informasi terutama untuk anak usia dini, karena melalui media audio visual anak bisa melihat sekaligus mendengar suatu pengetahuan yang disampaikan oleh guru. Anak usia dini memperoleh pengetahuan paling besar melalui indra pendengaran dan penglihatan. Khususnya pengetahuan tentang kosa kata Bahasa Inggris, media audio visual ini dianggap sebagai media yang tepat karena dengan melihat gambar yang ditampilkan oleh media tersebut, kosa kata tentang sesuatu benda menjadi lebih kongkret sehingga pengetahuan ini lebih mudah diserap oleh memori anak serta lebih mudah diingat. Dengan mendengar suara dari media tersebut akan meningkatkan kefasihan anak dalam mengucap bahasa Inggris. Pronounciation/ pengucapan kosa kata bahasa Inggris mereka juga lebih baik karena mendengar secara langsung. Hal ini sangat penting mengingat informasi yang diterima pada usia ini akan menjadi dasar pada perkembangan selanjutnya.
3. Anak Usia Dini
a. Hakikat Anak Usia Dini
Menurut Aries, 1960 dalam Kasina ahmad, 2005, anak adalah miniatur orang dewasa. Menurut pandangan mereka anak telah terbentuk sepenuhnya sebagaimana orang dewasa pada umumnya.
Sedangkan menurut Slamet Suyanto, 2005: 6, anak merupakan individu yang bersifat unik mengalami pertumbuhan dan perkembangan dan memiliki potensi, kelebihan, bakat dan minat yang berbeda-beda.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa anak usia dini adalah individu yang unik, mempunyai potensi, bakat dan minat serta mengalami pertumbuhan dan perkembangan untuk menuju kedewasaan.
b. Pemerolehan Bahasa Anak Usia Dini
1). Pengertian Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa (language acquisition) atau akuisisi bahasa menurut Maksan (1993: 20) adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal. Selanjutnya Stork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa ibunya. Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami didalam diri seseorang menguasai bahasa. (Suhartono, 2005: 70-71).
Dari beberapa pengertian diatas, dapatlah dinyatakan bahwa pembelajaran bahasa adalah suat proses secara sadar yang dilakukan oleh anak (pembelajar) untuk menguasai bahasa yang dipelajarinya.
2). Pemerolehan Bahasa Pertama (B1)
Pemerolehan bahasa adalah bahasa pertama yang diperoleh dan dipahami anak dalam kehidupan dan berkomunikasi di lingkungannya. Bahasa pertama anak Indonesia yang hidup dan dibesarkan di daerah pedesaan pada umumnya mengikuti bahasa ibunya yaitu bahasa daerah. Untuk di perkotaan, B1 anak tampaknya telah terjadi pergeseran, terutama kota-kota besar, anak dikenalkan bahasa pertamanya yaitu bahasa Indonesia. (Suhartono, 2005: 81).
3). Pemerolehan Bahasa Kedua/ Asing (B2)
Bahasa kedua/ asing (B2) adalah bahasa anak yang diperoleh setelah bahasa pertama. B2 anak di Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia dan bahasa asing. Pemerolehan bahasa Indonesia diperoleh anak dari lingkungan kehidupannya dan di sekolah. Pemerolehan bahasa asing pada umumnya melalui pendidikan informal maupun formal. (Suhartono, 2005:85)
4). Kedwibahasaan Anak Indonesia
Lado (1964:214) menyatakan bahwa kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya. Menurut Mackey (1956: 155) kedwibahasaan adalah pemakaian bergantian dari dua bahasa atau lebih. Selanjutnya Hartman dan Stork (1972:27) mengemukakan kedwibahasaan adalah
pemakaian dua bahasa oleh seorang penutur atau masyarakat. Sedangkan Haugen (1969:10) mengemukakan kedwibahasaan adalah orang yang tahu dua bahasa. (Suhartono, 2005:102).
Menurut beberapa pendapat dari pakar-pakar tersebut, batasan kedwibahasaan menganadung unsur-unsur (a) pemakaian dua bahasga, (b) dapat sama baiknya atau salah satu saja yang lebih baik, (c) pemakaian dapat produktif maupun reseptif, dan dapat oleh seorang individu atau oleh masyarakat. Dengan demikian batasan kedwibahasaan dapat didefinisikan pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseptif oleh seorang individu atau oleh masyarakat. Kedwibahasaan anak di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu
a). Bahasa daerah dan bahasa indonesia
Menurut laporan Nababan dan kawan-kawan (1984) dalam Suhartono (2005: 108), penggunaan kedwibahasaan (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dapat terjadi karena:
(1). Bahasa-bahasa daerah mempunyai tempat yang wajar disamping pembinaan dan pengembangan bahasa dan kebudayaan Indonesia.
(2). Perkawinan campur antar suku.
(3). Perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain.
(4). Interaksi antar suku; yakni dalam perdagangan, sosialisasi dan urusan kantor/ sekolah.
(5). Motivasi yang banyak didorong oleh kepentingan profesi dan kepentingan hidup.
b). Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
Sebagai negara yang berkembang, Indonesia perlu melakukan interaksi dengan dunia luar. Interaksi tersebut dilakukan secara internasional untuk kepentingan kemajuan negara (perdagangan, budaya, politik) yaitu diperlukannya penggunaan bahasa Inggris. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa tujuan penguasaan bahasa Inggris disamping bahasa indonesia merupakan suatu keharusan bagi banyak orang yang ingin berperan serta dalam kemajuan negaranya.
c). Bahasa Indonesia dan bahasa asing lainya (selain bahasa Inggris)
Kedwibahasaan (bahasa Indonesia dan bahasa lainnya selian bahasa Inggris) biasanya dikuasai oleh seseorang yang mempunyai hubungan dengan negara pemilik bahasa tersebut, seperti bahasa Mandarin, Belanda, Perancis, dsb.
Berdasarkan teori-teori yang telah disampaikan diatas, pemerolehan bahasa anak merupakan suatu proses penguasaan bahasa pada anak. Adapun tahap pemerolehan bahasa anak meliputi bahasa pertama/ ibu (B1) dan bahasa asing (B2). Selain pengusaan bahasa tersebut, anak-anak juga menguasai kedwibahasaan, baik bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa inggis, maupun bahasa asing lainnya. Semakin banyak anak menguasai bahasa, maka akan semakin merangsang perkembangan kecerdasannya.
C. Kerangka Berpikir
Dari kajian teori diatas dapat disusun kerangka pemikiran guna memperoleh jawaban sementara atas permasalahan yang timbul. Di era globalisasi sekarang ini, pengusaan kosakata bahasa Inggris pada anak usia dini masih kurang. Untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris pada anak usia dini memerlukan adanya pendekatan pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan tertentu yang tepat dalam proses pembelajaran. Penelitian ini diperlukan evaluasi dan observasi awal untuk mengetahui penyebab dan upaya untuk menemukan fakta-fakta yang dapat digunakan untuk melengkapi kajian teori yang ada dan untuk menyusun perencanaan tindakan yang tepat dalam upaya meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris anak.
Penelitian ini menggunakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan media audio visual sebagai sarana penyampaian kosakata bahasa Inggris kepada anak. Pemanfaatan media audio visual merupakan sarana yang efektif dalam penyampaian kosakata bahasa Inggris pada anak usia dini, karena melalui media tersebut anak dapat mendengar dan melihat langsung kata yang disampaikan sehingga kosa kata bahasa Inggris tersebut akan mudah di hafal dan dipahami oleh anak.
D. Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara yang dianggap dapat dijadikan jawaban dari suatu permasalahan yang timbul. Hipotesis merupakan kesimpulan yang nilai kebenarannya masih diuji, melihat permasalahan dan teori yang telah dikemukakan diatas dapat penulis rumuskan hipotesis yaitu, pemanfaatan media audio visual akan dapat meningkatkan penguasaan bahasa Inggris pada anak usia dini.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris sering disebut Classroom Action Research (CAR) yaitu merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Suharsimi Arikunto, 1998). Penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris anak. Sehingga penelitian ini difokuskan pada tindakan-tindakan sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Inggris pada anak usia dini.
Penelitian kelas merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dimulai dari : a) perencanaan (planning), b) pelaksanaan (action), c) pengumpulan data (observing), d) menganalisis data / informasi untuk memutuskan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut (reflecting). PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya (berhentinya) siklus-siklus tersebut.
Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara kepala sekolah, guru tetap dan peneliti. Hal ini dilakukan untuk menyamakan pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (Action).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Sekolah yang dipilih untuk dijadikan tempat penelitian ini adalah TKIT Mutiara Hati Klaten tahun ajaran 2009/2010. Peneliti mengadakan penelitian
ini dengan pertimbangan sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti. Selain itu disekolah ini sudah terdapat laboratorium Audio Visual, akan tetapi pengajaran Bahasa Inggris masih dilakukan di kelas dan dengan metode klasikal. Oleh karena itu peneliti mencoba memanfaatkan media Audio Visual tersebut untuk meningkatkan penguasaan Bahasa Inggris anak.
2. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010.
Kegiatan penelitian
Bulan pelaksanaan tahun 2009/ 2010
Maret
April
Mei
Juni
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1. Tahap persiapan
a. Kajian studi pustaka
b. Pembuatan desain penelitian
c. Konsultasi rancangan penelitian
d. Perumusan rancangan penelitian
2. Tahap Pelaksanaan
a. Perencanaan
b. Implementasi tindakan
c. Pengamatan kelas
d. Refleksi
e. Analisis dan interpertasi data
f. Perumusan hasil
3. Tahap Pelaporan
a. Penyusunan laporan
b. Penulisan laporan
c. Revisi dan editing
d. Penggandaan data
e. Penyetoran laporan
C. Subyek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa TKIT Mutiara Hati Klaten tahun ajaran 2009/2010 dengan pertimbangan bahwa siswa pada sekolah ini memiliki
kemampuan yang heterogen dan pembelajaran bahasa Inggris sudah diterapkan di TK tersebut. Dalam penelitian ini dipilih satu kelas yaitu siswa kelompok B.
D. Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian bersumber dari interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran dan berupa data tindakan belajar atau perilaku belajar yang dihasilkan dari tindakan yang mengajar. Pengambilan data dilakukan dengan:
1. Metode Observasi
Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti dan sistematis (Suharsimi Arikunto, 2007). Pengumpulan data melalui observasi dilakukan sendiri oleh peneliti pada kelas yang dijadikan subyek penelitian untuk mendapatkan gambaran secara langsung kegiatan belajar siswa dikelas. Observasi yang dilakukan meliputi observasi tentang proses pembelajaran bahasa Inggris, keadaan siswa serta keaktifan siswa dalam menerima pembelajaran bahasa Inggris di kelas.
2. Wawancara dan diskusi
Wawancara dan diskusi dilakukan setelah dan atas dasar hasil pengamatan di kelas maupun kajian dokumen. Wawancara dan diskusi dilakukan antara guru dan peneliti. Wawancara dan diskusi dengan guru dilaksanakan setelah melakukan pengamatan pertama terhadap kegiatan pembelajaran, yang dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini. Dari wawancara, pengamatan dan kajian dokumen yang telah dilakukan diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang ada berkenaan dengan
pembelajaran bahas Inggris serta faktor-faktor penyebabnya (Sarwiji Suwardi, M. Pd: 2008).
3. Metode Tes
Suharsimi Arikunto (1998:139) menyatakan “Metode tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”. Metode tes digunakan sebagai instrumen penelitian dalam pengumpulan data untuk mengetahui siswa menguasai kosakata bahasa Inggris atau tidak. Bentuk tes berupa post-test yang berbentuk tes lisan, karena dengan tes lisan guru/ peneliti lebih mudah dan secara langsung mengidentifikasi anak sudah menguasai kosakata bahasa Inggris. Selain itu post-test juga berguna untuk mengetahui kemampuan siswa setelah pembelajaran dengan media audio visual serta mengetahui peningkatan penguasaan kosa kata bahasa Inggris dari siklus pertama ke siklus berikutnya.
4. Catatan Lapangan
Catatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen dalam Lexi J Moleong (1991:153) adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Catatan lapangan digunakan untuk mencatat temuan selama pembelajaran yang diperoleh peneliti yang tidak teramati dalam lembar observasi bentuk temuan ini berupa aktivitas siswa dan permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran Bahasa Inggris.
5. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah instrumen untuk mengumpulkan data tentang peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu yang telah didokumentasikan (Mulyasa, 2009:69). Dokumentasi dilakukan untuk memperoleh atau mengetahui sesuatu dengan buku-buku, arsip yang berhubungan dengan yang diteliti. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah dan nama siswa kelompok B TKIT Mutiara Hati Klaten. Dokumentasi juga berupa foto rekaman proses tindakan penelitian, yaitu rekaman proses pembelajaran Bahasa Inggris dengan media audio visual.
E. Teknik Pemeriksaan Validitas Data
Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian, maka dipilih dan ditentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperolehnya. Dalam penelitian ini akan digunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 1991:178).
Penelitian ini menggunakan triangulasi penyelidikan dengan jalan memanfaatkan peneliti atau penguatan untuk pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamatan lainnya dalam hal ini adalah guru kelas kelompok B dan kepala sekolah itu sendiri dapat membantu mengulangi kemenangan dalam pengumpulan data.
F. Teknik Analisis Data
Pada penelitian tindakan kelas ini, data dianalisis sejak tindakan pembelajaran dilakukan dan dikembangkan selama proses refleksi sampai proses penyusunan laporan. Untuk kesinambungan dan kedalaman dalam pengajaran data dalam penelitian ini digunakan analisis interaktif. Data yang dianalisis secara diskriptif kualitatif dengan analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dilakukan dalam bentuk interaktif dengan pengumpulan data sebagai suatu proses siklus. Menurut M. B. Miles (1992 : 20) proses analisis interaktif dapat digambarkan dalam skema berikut:
Pengumpulan Data Penyajian Data
Reduksi Data Penarikan Kesimpulan
Gambar 3.1 Proses Analisis Interaktif
Reduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya serta membuang hal yang tidak perlu (Sugiyono, 2006: 338). Reduksi data dilakukan melalui pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari hasil catatan lapangan
Penyajian data adalah teknik peyajian data yang terorganisir, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Penyajian data dalam penelitian ini berupa hasil post-test (tes lisan) yang disusun sehingga mudah dipahami dan dilakukan secara bertahap.
Penarikan kesimpulan merupakan pengambilan keputusan dengan didukung bukti yang valid dan konsisten. Dalam penelitian ini setelah penyajian daya kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi.
G. Indikator Kinerja
Untuk menentukan keberhasilan dan keekfetifan penelitian ini, maka di rumuskan indikator kinerja yang digunakan sebagai acuan keberhasilan. Adapun indikator keberhasilan penelitian ini adalah
1. Anak didik aktif dan memiliki motivasi untuk mengikuti pembelajaran bahasa Inggris di kelas.
2. Lebih dari 70 % anak didik dapat menjawab soal post-test yang diajukan oleh guru.
3. Anak didik dapat menjawab lebih dari 70 % dari soal-soal yang diajukan oleh guru.
H. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan berbasis kelas kolaboratif. Suatu penelitian yang bersifat praktis, situasional dan konteksual berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di taman Kanak-kanak. Kepala sekolah, guru dan peneliti senantiasa berupaya memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang efektif sehingga dimungkinkan adanya tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini yaitu 1). Perencanaan tindakan 2). Pelaksanaan tindakan 3). Pengamatan 4). Refleksi. Langkah-langkah penelitian untuk setiap siklus dapat diilustrasikan dalam siklus sebagai berikut:
SIKLUS I
SIKLUS II
Gambar 3.2
Proses Penelitian Tindakan
Sumber: Penelitian Tindakan Kelas (Suhardjono, 2007: 74)
1. Perencanaan Tindakan
Langkah-langkah persiapan yang dilakukan untuk mengadakan tindakan terdiri dari:
a. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam penelitian ini berdasarkan pengamatan bahwa anak usia dini khusuanya anak TK kurang menguasai kosakata bahasa Inggris.
permasalahann
Perencanaan
Tindakan I
Pelaksanaan
Tindakan I
Pengamatan/ pengumpulan data I
Refleksi I
Pelaksanaan tindakan II
Perencanaan
Tindakan II
Permasalahan baru hasil refleksi
Refleksi II
Pengamatan/ pengumpulan data II
Apabila permasalahan belum terselesaikan
Dilanjutkan ke siklus berikutnya
b. Perumusan Masalah
Setelah teridentifikasi, maka masalah dirumuskan sebagai berikut: sekurang-kurangnya 75 % siswa kelompok B TKIT Mutiara Hati kurang menguasai kosakata bahasa Inggris.
c. Pengembangan Intervensi (action/ solution)
Pengembangan intervensi/ solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah peningkatan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa adalah dengan pemanfaatan media audio visual sebagai sarana penyampaian kosakata bahasa Inggris kepada anak usia dini.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan dilaksanakan berdasarkan perencanaan, namun tindakan tidak mutlak dikendalikan oleh rencana suatu tindakan yang diputuskan mengandung resiko karena terjadi dalam situasi nyata, oleh karena itu rencana tindakan harus bersifat tentatif dan sementara, fleksibel dan siap diubah sesuai dengan kondisi yang ada sebagai usaha kearah perbaikan. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam waktu antara1 sampai 1,5 bulan.
3. Pengamatan/ observasi
Pengamatan berperan dalam upaya perbaikan praktek profesional melalui pemahaman yang lebih baik dan perencanaan tindakan yang lebih kritis.
Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Kegiatan ini dilakukan peneliti dengan dibekali lembar pengamatan menurut aspek-aspek identifikasi, waktu pelaksanaan, pendekatan, metode dan
tindakan yang dilakukan peneliti, tingkah laku siswa serta kelemahan dan kelebihan yang ditemukan.
4. Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yag telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.
Refleksi mencakup analisis, sintesis, dan penilaian tehadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya. (Hopkins, 1993 dalam Suhardjono, 2007). Kegiatan refleksi ini dilakukan setiap akhir pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Kasina. 2005. Perlindungan dan Pengasuhan Anak Usia Dini. Jakarta: Diknas.
Arikunto, suharsimi, Suhardjono, Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Asmorowati, Murni. 2007. Pemerolehan Kosakata Dasar Bahasa Indonesia Pada Anak Prasekolah. Skripsi. Surakarta: (Tidak diterbitkan).
Budiman, Sumiyati. 1987. Sari Sastra dan Bahasa Indonesia. Klaten: Intan Periwara.
Eliyati, Cucu. 2005. Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Diknas.
Moleong, Lexy. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. 1991. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdyakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 1987. Penilaian dan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Bumi Aksara.
Ramendra, Dewa Putu & Ratminingsih, Ni Made. 2007. Pemanfaatan Audio Visual Aids (AVA) Dalam Proses Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris Di Sekolah Dasar. http.undiksha.org.
Scott, Wendy A & Lishbeth H Ytreberg. 2004. Teaching English To Children. New York: Longman.
Sugiyati, Eka. 2007. Developing Student’s Vocabulary By Using Games, Songs, And Pictures. Skripsi. Surakarta: (Tidak diterbitkan).
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suhartono. 2005. Pengembangan Keterampilan Bicara Anak Usia Dini. Jakarta: Diknas.
Sulaiman, Amir Hamzah. 1985. Media Audio Visual Untuk Pengajaran, Penerangan, dan Penyuluhan. Jakarta: PT Gramedia.
Suwandi, Sarwiji, M. Pd. 2008. Penelitian Tindaka Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13
Suyanto, Kasihani K.E. 2008. English For Young Learners. Jakarta: Bumi Aksara.
Tri Susila, Susi. 2007. Teaching Vocabulary Using Montessori Method at TKIT Alfarisy Majalengka. Skripsi. Surakarta: (Tidak diterbitkan).
Wiraatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: