MODEL PEMBELAJARAN AUD

HAKIKAT MODEL PEMBELAJARAN

A. Pengertian model
Model diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda sesungguhnya, seperti globe adalah model dari bumi tempat kita hidup.
Model secara sederhana adalah ”gambaran” yang dirancang untuk mewakili kenyataan. Model didefinisikan sebagai “a replica of the fhenomena it attempts to explain” (Runyon, dalam Rakhmat, 1988:59).
B. Pengertian Pembelajaran
Dalam proses pendidikan di sekolah secara keseluruhan, pembelajaran merupakan aktivitas paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.Lebih lengkap baca disini.
Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan mempengaruhi cara guru itu dalam mengajar. Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para pakar, secara umum pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap Surya (2002:11) mendefinisikan pembelajaran sebagai berikut: ”Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut di atas ialah
1. Pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami pembelajaran akan berubah perilakunya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku itu adalah hasil pembelajaran. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ini:
a. Perubahan yang disadari. Artinya individu yang melakukan proses pembelajaran menyadari bahwa pengetahuannya telah bertambah, keterampilannya telah bertambah dan mungkin saja ia telah lebih yakin terhadap kemampuan dirinya.
b. Perubahan yang bersifat kontinyu (berkesinambungan). Artinya suatu perubahan yang telah terjadi sebagai hasil pembelajaran akan menyebabkan terjadinya perubahan yang lain. Misalnya, seorang anak yang telah belajar membaca, ia akan berubah perilakunya dari tidak mampu membaca menjadi dapat membaca.
c. Perubahan yang bersifat fungsional. Artinya perubahan yang telah diperoleh sebagai hasil pembelajaran memberikan manfaat bagi individu yang bersangkutan.
d. Perubahan yang bersifat positif. Artinya terjadi adanya pertambahan perubahan dalam diri individu. Perubahan yang diperoleh senantiasa bertambah sehingga berbeda dengan keadaan sebelumnya.
e. Perubahan yang bersifat aktif. Artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi melalui aktivitas individu.
f. Perubahan yang bersifat permanen. Artinya perubahan yang terjadi sebagai hasil pembelajaran akan berada secara kekal dalam diri individu, setidak-tidaknya untuk masa tertentu.
g. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Artinya perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai.
2. Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung arti bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan perilaku itu meliputi aspek-aspek perilaku kognitif, afektif dan juga motorik.
3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan. Di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Jadi, pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. Pembelajaran tidak dapat dilepaskan dengan interaksi individu dengan lingkungannya.
4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung arti bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena ada sesuatu yang mendorong dan sesuatu yang ingin dicapai. Hal yang mendorong adalah karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan, dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip itu, maka pembelajaran akan terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang perlu dicapai untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan.
5. Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu. Pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pembelajaran, pada dasarnya merupakan pengalaman. Hal ini berarti bahwa selama individu dalam proses pembelajaran hendaknya tercipta suatu situasi kehidupan yang menyenangkan sehingga memberikan pengalaman yang berarti.
C. Hakikat Pembelajaran Anak Usia Dini
Pada hakikatnya anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan, bersifat aktif dan energik, egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, antusias terhadap banyak hal, bersifat eksploratif dan berjiwa petualang, kaya dengan fantasi, mudah frustrasi, dan memiliki daya perhatian yang pendek. Masa anak merupakan masa belajar yang potensial.
Kurikulum untuk anak usia dini harus benar-benar memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan harus dirancang untuk membuat anak mengembangkan potensi secara utuh. Baik Kurikulum TK 2004 maupun Kurikulum TK 2009 pada dasarnya sama memuat aspek-aspek perkembangan yang dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan perilaku melalui pembiasaan dan bidang kemampuan dasar.
Pembelajaran anak usia dini pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi bermain (belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar), pembelajaran yang berorientasi perkembangan yang lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk dapat belajar dengan cara-cara yang tepat. Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak.
D. Pengertian Model Pembelajaran
Model dalam konteks pembelajaran, Joyce dan Weil (Udin S.Winataputra, 2001) mendefinisikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Dalam kegiatan pembelajaran model dapat dimaknai sebagai suatu pola atau gambaran yang menjelaskan tentang berbagai bentuk, pandangan yang terkait dengan kegiatan pembelajaran.
Jadi, Model pembelajaran anak usia dini dapat didefinisikan sebagai serangkaian pola, bentuk, kegiatan ataupun kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar anak usia dini.
E. Model, strategi, metode dan teknik pembelajaran
Model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya/ langkahnya, lingkungannya, dan system pengelolaannya.
Menurut Joyce (1971) model itu lebih luas dari suatu strategi, karena suatu model mengajar menyangkut 4 hal pokok yaitu, tahapan-tahapan model, sistem sosial yang diharapkan, prinsip-prinsip reaksi guru dan peserta didik, serta penunjang yang diisyaratkan.
Strategi merupakan pola umum menentukan kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Dikatakan pola umum, sebab suatu strategi pada hakikatnya belum mengasah pada hal-hal yang bersifat praktis, masih berupa rencana atau gambaran menyeluruh. Sedangkan untuk mencapai tujuan, strategi memang disusun untuk tujuan tertentu. Tidak ada strategi tanpa adanya tujuan yang harus dicapai. Misalkan dalam suatu permainan sepak bola untuk memenangkan pertandingan kita dapat menggunakan strategi menyerang atau bertahan. Maka stelah kita menyusun strategi baru kita tentukan pola atau metode menyerang atau bertahan yang itu pola yang harus dilakukan. Setelah kita menetapkan pola yang sesuai dengan strategi yang diinginkan, baru membicarakan teknik atau taktik permainan.
Pola atau cara yang ditetapkan sebagai hasil dari kajian strategi itu dalam proses pembelajaran dinamakan dengan metode pembelajaran. Jadi dengan demikian metode pada dasarnya berangkat dari suatu strategi tertentu. Sedangkan cara untuk menjalankan metode yang ditetapkan itu dinamakan dengan teknik atau taktik sifat-sifatnya lebih praktis yang disusun untuk menjalankan suatu metode dan strategi tertentu. Dengan kata lain taktik dan teknik itu menunjukkan cara yang dilakukan seseorang yang sifatnya lebih tertumpu pada kemampuan dan pribadi seseorang. Misal ada dua orang guru sama-sama menggunakan metode ceramah yang ditampilkan keduanya bisa berbeda, baik ditinjau dari bahasa yang digunakan, intonasi suara, cara memberikan ilustrasi dan sebagainya.
PEMILIHAN MODEL PEMBELAJARAN

A. PENTINGNYA MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran, dipandang paling punya peran strategis dalam upaya mendongkrak keberhasilan proses belajar mengajar. Karena ia bergerak dengan melihat kondisi kebutuhan anak didik, sehingga guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan tepat tanpa mengakibatkan siswa mengalami kebosanan. Namun sebaliknya, siswa diharapkan dapat tertarik dan terus tertarik mengikuti pembelajaran, dengan keingintahuan yang berkelanjutan.
Berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama antar anak didik, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan anak didik melalui aktivitas individu maupuh kelompok.
B. Kriteria Pemilihan Model Pembelajaran
Untuk memilih/menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu, perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik dan prinsip-prinsip belajar, (seperti kecepatan belajar, motivasi, minat, keaktivan dan umpan balik/penguatan), serta berorientasi pada konsep pembelajaran mutakhir.
Terdapat beberapa kriteria yang harus menjadi pertimbangan guru dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu
a. Karakteristik tujuan pembelajaran apakah untuk pengembangan aspek kognitif, aspek afektif atau psikomotor. Atau apakah pembelajaran itu bertujuan untuk mengembangkan domain fisik-motorik, kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika.
b. Karakteristik anak sebagai peserta didik baik usianya maupun kemampuannya.
c. Karakteristik tema atau bahan ajar yang akan disajikan kepada anak
Semua kriteria ini memberikan implikasi bagi guru untuk memilih model pembelajaran yang paling tepat digunakan pada anak usia dini.

JENIS-JENIS MODEL PEMBELAJARAN PADA ANAK USIA DINI

Pembelajaran anak usia dini dapat dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yaitu: pembelajaran bebas, pembelajaran terpimpin, dan pembelajaran kondusif.
1. Pembelajaran Bebas
Pembelajaran bebas merupakan suatu strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna kepada anak. Strategi ini sangat menguntungkan anak yang memiliki kekuatan untuk mandiri. Anak yang mandiri menunjukkan kepemimpinannya, tidak terlalu tergantung guru. Bila perlu anak datang kepada guru. Kreativitasnya dapat berkembang. Ia pun tidak canggung, kebutuhan bermain anak dicukupi, kegiatan bermain dihargai dan dianggap sebagai cerminan kehidupan yang sebenarnya. Sebaliknya bagi anak yang kurang mandiri, model pembelajaran ini dapat menimbulkan frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukan, putus asa, cemas, bosan, bingung, dan tidak terkendalikan.
Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran bebas:
 Kegiatan pembelajaran berpusat pada anak
 Memberikan pengalaman langsung pada anak
 Strategi pembelajaran kurang terstruktur, bersifat fleksibel
 Kebebasan bermain tidak dibatasi
 Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
Prosedur pembelajaran bebas:
 Pelajari kompetensi dasar pada kelompok dan semester yang sama dari setiap kemampuan yang akan dikembangkan.
 Dalam pelaksanaan pembelajaran bebas perlu mempertimbangkan antara lain alokasi waktu, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan
 Persiapkan alat-alat bermain yang bervariasi untuk menunjang kegiatan yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan
2. Pembelajaran Terpimpin
Berbeda dengan pembelajaran bebas, pembelajaran terpimpin merupakan strategi yang sepenuhnya dikendalikan guru. Guru lebih banyak berbicara dan anak mendengarkan, mengikuti contoh dan perintah guru, melakukan drill dan latihan sesuai rencana guru. Anak yang tidak dapat menangkap contoh, dipisahkan dan dibetulkan guru. Anak merasa berhasil kalau ia dapat menjalankan apa kehendak guru. Suasana pembelajaran diwarnai oleh banyaknya perilaku yang tidak dibenarkan guru sehingga banyak anak membutuhkan peringatan guru terus-menerus untuk menyelesaikan tugasnya.
Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran terpimpin yaitu:
 Berpusat pada perilaku mengajar guru
 Kreativitas anak kurang berkembang
 Menyajikan konsep dan berbagai materi dalam suatu proses pembelajaran untuk dikuasai anak
 Menekankan disiplin, keteraturan prosedur, dan menghargai senioritas
 Hasil belajar ditentukan oleh kegiatan-kegiatan guru dalam mengajar
Prosedur pembelajaran terpimpin yaitu:
 Guru menyusun silabi berdasarkan kompetensi dasar yang akan dikembangkan
 Guru menyiapkan alat-alat peraga/bermain sesuai dengan kompetensi yang telah direncanakan
 Dalam proses pelaksanaannya, anak dikondisikan untuk mentaati instruksi, perintah, dan larangan dari guru
 Penilaian hasil belajar berdasarkan pada penguasaan anak sesuai dengan apa yang diperintah guru

3. Pembelajaran Kondusif (Supportive climate)
Pembelajaran kondusif ini merupakan kombinasi antara suasana pembelajaran bebas dengan suasana pembelajaran terpimpin. Guru dan anak berbagi proses pembelajaran dan pengalaman. Guru berusaha menyeimbangkan secara efektif antara kebebasan aktif bereksplorasi dan membatasi agar merasa aman ketika belajar. Guru mencipta lingkungan pembelajaran dengan penuh pilihan minat. Keteraturan dalam rutinitas. Anak diberi penguatan untuk mengekspresikan diri dan menjalankan keinginannya. Meskipun tugas telah direncanakan oleh guru, anak tetap berkesempatan untuk mengambil keputusan pilihan materi dan bahan. Sepanjang hari guru bertindak sebagai partner yang menaruh minat pada apa yang dilakukan anak. Guru mengamati, mendengarkan, berinteraksi, membesarkan hati anak, membantu memecahkan masalah. Guru memberi model perilaku yang benar dan mengkaitkannya dengan pengalaman anak. Keterlibatan anak untuk bertanggung jawab atas solusi atau hasil pemecahan masalahnya sendiri. Mencipta suasana yang supportive mendukung kebutuhan anak. Anak belajar aktif, mereka fokus pada minat, dan inisatifnya, mencoba ide, bicara tentang apa yang dilakukan, memecahkan masalah sendiri.
Ciri-ciri atau karakteristik utama pembelajaran kondusif antara lain:
 Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.
 Menyenangkan karena bertolak dan minat dan kebutuhan anak.
 Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.
 Mengembangkan keterampilan berpikir anak dengan permasalahan yang dihadapi.
 Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Prosedur pembelajaran kondusif antara lain:
 Pembelajaran kondusif dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna dan utuh.
 Dalam pelaksanaan pembelajaran kondusif perlu mempertimbangkan antara lain alokasi waktu, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan.
 Pilihlah tema yang terdekat dengan anak.
 Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai dari pada tema.
Model- model pembelajaran anak usia dini berdasarkan aliran-aliran, baik dalam kajian psikologi dan filsafat. Diantara pandangan tersebut adalah sebagai berikut ini :
1. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Behaviorisme
Menurut pandangan ini, belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur (meassurable). Behaviorisme menolak suatu referensi terhadap keadaan atau proses mental internal yang tidak dapat diamati dan diukur. Pendekatan terhadap belajar ini dicontohkan oleh kerja Thorndike & Skinner (Masitoh, dkk, 2003) yang didasarkan atas suatu anggapan dari penelitian terhadap hewan dalam situasi belajar. Didasarkan pada eksperimen tersebut, kaum behavioris mengembangkan hipotesis bahwa proses belajar adalah penerapan hubungan stimulus-respon dengan control dari lingkungan dan control itu merupakan suatu hal yang potensial untuk penguatan.
Menurut teori ini setiap orang merespon terhadap berbagai variabel yang terdapat dalam lingkungan. Kekuatan-kekuatan eksternal merangsang individu untuk bertindak dengan cara-cara tertentu mungkin positif, dan mungkin negatif. Karena teori ini didasari oleh asumsi bahwa pada prinsipnya individu itu dapat dibentuk oleh lingkungan, maka perlakuan terhadap individu melalui tugas, ganjaran, dan disiplin adalah sangat penting untuk mengembangkan kemampuan anak. Guru harus mempunyai peranan yang sangat dominan dalam mengendalikan proses pembelajaran mulai dari penentuan tujuan yang harus dicapai, pemilihan materi, sumber, dan metode pembelajaran maupun dalam proses mengevaluasi
Dalam pandangan behaviorisme anak akan berkembang berdasarkan prinsip ganjaran dan hukuman (reward & punishment).
2. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Kognitivisme
Pandangan kognitif tentang belajar antara lain diilhami oleh hasil kerja Jean Piaget dan sejawatnya. Menurut Cohen (Masitoh, dkk, 2003)), model belajar ini secara umum ditandai sebagai tahapan teori yang menganjurkan bahwa proses berfikir anak dikembangkan melalui empat tahap yang berbeda. Menurut pendekatan ini proses berpikir bergantung pada suatu kemampuan untuk mencipta, memperoleh dan mengubah gambaran internal tentang segala sesuatu yang dialami di lingkungan.
Pendekatan kognitif menekankan pada proses asimilasi dan akomodasi. Dalam hal ini anak menjadi problem solver dan pemroses informasi atau transformation processor. Aspek-aspek tersebut merupakan suatu rangkaian dalam proses belajar. Menurut pendekatan kognitif, belajar adalah sebagai perubahan perkembangan.
3. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruksivisme
Menurut pandangan ini anak adalah pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Menurut De Vries (Masitoh, dkk, 2003)) anak harus membangun pengetahuan ketika mereka bermain. Anak membangun kecerdasannya, kemampuan untuk nalar, moral dan kepribadiannya. Pendekatan ini sangat menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses belajar. Proses belajar hendaknya menyenangkan bagi anak, alami, melalui bermain, dan memberi kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut David H. Janassen (Masitoh, dkk, 2003)), “Constructivism proposes that learning environments should support multiple perspectives or interpretations of reality, knowledge, construction, and context, experience based activities”. Artinya faham konstruktivisme menyatakan bahwa lingkungan belajar harus dapat mendukung berbagai perspektif atau interpretasi tentang kenyataan, pengetahuan, konstruksi dan konteks pengalaman yang didasarkan pada kegiatan.
Menurut pandangan konstrukvistik anak akan dapat mengembangkan potensi mereka jika diberikan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri
4. Model Pembelajaran Menurut Pendekatan High / Scope
Menurut pendekatan ini, anak memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuannya dan melibatkan interaksi yang bermakna antara anak dengan orang dewasa. Pengalaman sosial terjadi dalam konteks kehidupan nyata dimana anak memutuskan rencana dan inisiatifnya sendiri. Keterlibatan anak dalam proses belajar sangat penting sehingga mereka memperoleh kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan lingkungannya, dengan demikian lingkungan belajar harus dapat mendukung aktivitas belajar anak.
5. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Progresivisme
Menurut Kohlberg dan Layen (Masitoh, dkk, 2003)) aliran ini berpandangan bahwa belajar adalah perubahan dalam pola berpikir melalui pengalaman memecahkan masalah. Ketika anak berinteraksi dengan lingkungan pengalaman nyata dan objek-objek nyata, anak akan mengalami masalah. Anak akan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya, dan ketika itu pula akan terjadi perubahan pola berpikir mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: