diagnostik anak retardasi mental (RM)

DIAGNOSTIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
RETARDASI MENTAL/ KETERBELAKANGAN MENTAL

A. LATAR BELAKANG
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek: gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.
Pekembangan anak perlu didukung oleh keluarga dan lingkungannya, supaya tumbuh kembang anak berjalan secara optimal dan kelak menjadi manusia dewasa berkualitas dan manjadi insan berguna baik bagi dirinya maupun keluarga, bangsa, dan negara. Namun dalam kenyataanya tidak sedikit anak-anak yang mengalami gangguan/ permasalahan baik fisik maupun psikisnya, dimana kita sering menyebutnya sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Sebagai contoh yaitu anak yang menyandang retardasi mental, yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebaai anak yang bodoh/ pandir. Gangguan ini bila mungkin harus dicegah. Diantara upaya yang dapat dilakukan ialah meningkatkan kesehatan ibu hamil, melalui gizi yang sehat, menghindari penyakit, menghindari obat-obat atau kegiatan-kegiatan yang berdampak buruk bagi janin.
Selain itu juga harus diupayakan agar persalinan berlangsung dengan baik, didukung dengan tenaga yang berkompeten. Kesehatan bayi perlu di jaga, dilindungi dari penyakit, cidera otak serta mal nutrisi.
Adanya retardasi mental dapat dideteksi sejak usia dini, melalui penilaian tingkat atau derap perkembangan kecakapan mental bayi atau anak. Pengenalan ini berguna agar kita dapat mendeteksi penyebabnya serta melakukan penanganan yang sesuai dan memberikan stimulasi yang dini.
Deteksi dini anak berkebutuhan khusus ini perlu dilakukan oleh orang tua, guru, maupun orang-orang disekitar anak tersebut. Oleh karena itu orang tua maupun guru harus memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak serta menyadari adanya kelainan-kelainan yang timbul pada anak. Selain mendeteksi dini, terutama untuk tenaga pendidik sebaiknya dapat mendiagnosa kelainan pada anak berkebutuhan khusus sehingga mengetahui penyebab-penyebab terjadinya kelainan dan kemudian dapat melakukan treatmen/ intervensi yang tepat. Dalam penanganan ini guru dapat bekerja sama dengan pihak yang berkopeten misalnya dokter, psikolog, maupun terapis.
Berdasarkan paparan diatas, penting bagi kita sebagai guru untuk mempunyai kemampuan mendeteksi dini kelainan pada anak usia dini. Oleh karena itu, disini kami akan berusaha untuk membahas lebih dalam tentang anak dengan kelainan retardasi mental/ keterbelakangan mental, mendiagnosa, melakukan prognosa, kemudian memilih treatmen yang tepat untuk anak tersebut. Pembahasan ini didukung dengan observasi secara langsung terhadap anak yang menyandang gangguan retardasi mental/ keterbelakangan mental di salah satu klinik center untuk anak berkebutuhan khusus di kota Surakarta.

B. LANDASAN TEORI
1. Definisi Retardasi Mental
Definisi yang dikemukakan oleh ICD 10 (WHO Geneva, 1992) dalam (Lumbantobing, 2001) retardasi mental ialah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya hendaya (impairement) keterampilan (kecakapan, skill) selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelligensi, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan social. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan mental atau fisik lainya.
Definisi yang dikemukakan oleh DSM IV (1994) dalam Rosmala Dewi; 2005, retardasi mental merupakan gangguan yang ditandai oleh fungsi intelektual yang berfungsi secara bermakna dibawah rata-rata (IQ kira-kira 70 atau lebih rendah) yang bermula sebelum usia 18 tahun disertai deficit atau hendaknya fungsi adaptif (fungsi adaptif adalah kemampuan individu tersebut secara efektif menghadapi kebutuhan untuk berdikari yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya).
Sedangkan definisi yang dikemukakan oleh AAMD (The American Assosiation For Mental Deficiency), retardasi mental adalah keadaan dimana intelegensi umum berfungsi dibawah rata-rata, yang bermula sewaktu masa perkembangan dan disertai gangguan tingkah laku penyesuaian. Retardasi mental sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
a. Lemah fikiran ( Feeble-minded);
b. Terbelakang mental (Mentally Retarded);
c. Bodoh atau dungu (Idiot);
d. Pandir (Imbecile);
e. Tolol (Moron);
f. Oligofrenia (Oligophrenia);
g. Mampu Didik (Educable);
h. Mampu Latih (Trainable);
i. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
j. Mental Subnormal;
k. Defisit Mental;
l. Defisit Kognitif;
m. Cacat Mental;
n. Defisiensi Mental;
o. Gangguan Intelektual.
2. Klasifikasi Retardasi Mental
Pengklasifikasian/ penggolongan Anak Retardasi mental untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) dalam Maghdita Sekar, dkk 2007 sebagai berikut:
a. Educable
Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
b. Trainable
Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuanya untuk mendapat pendidikan secara kademik.
c. Custodial
Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.
DSM IV (1994) dalam Rosmala Dewi (2005) menjelaskan klasifikasi anak cacat mental sebagai:
a. Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69, adalah kelompok kecacatan yang dapat dididik. Pada usia dini anak dapat mengembnagkan kecakapan sosial dan komunikasi, namum mempunyai sedikit hambatan pada sensorimotornya.
b. Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40-54, adalah kelompok kecacatan yang dapat dilatih. Kelompok ini masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat, anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif.
c. Retardasi mental berat (severe mental retardation) dengan IQ: 20 – 39. sebagian anak cacat mental berat tidak mampu berkomunikasi dalam bentuk bahasa. Setelah usia sekolah mereka bicara dan dapat dilatih dalam keterampilan mengurus diri yang sederhana.
d. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Anak dengan cacat mental sangat berat menunjukkan gangguan yang berat baik dalam perkembangan sensorimotor, perkembangan motorik, kemampuan berkomunikasi, maupun dalam keterampilan mengurus diri sendiri. Umumnya mereka secara total tergantung pada lingkungan.

TINGKAT RETARDASI MENTAL, PERKIRAAN RENTANG IQ, DAN JENIS TINGKAH LAKU ADAPTIF YANG TERLIHAT
Tingkat Kisaran IQ Kemampuan Usia Prasekolah
(sejak lahir-5 tahun) Kemampuan Usia Sekolah
(6-20 tahun) Kemampuan Masa Dewasa
(21 tahun keatas)
Ringan 52-68 • Bisa membangun kemampuan sosial & komunikasi
• Koordinasi otot sedikit terganggu
• Seringkali tidak terdiagnosis • Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun
• Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial
• Bisa dididik • Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan
Moderat 36-51 • Bisa berbicara & belajar berkomunikasi
• Kesadaran sosial kurang
• Koordinasi otot cukup • Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan
• Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik • Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan
• Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan
Berat 20-35 • Bisa mengucapkan beberapa kata
• Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri
• Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit
• Koordinasi otot jelek • Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi
• Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana • Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan
• Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali
Sangat berat 19 atau kurang • Sangat terbelakang
• Koordinasi ototnya sedikit sekali
• Mungkin memerlukan perawatan khusus • Memiliki beberapa koordinasi otot
• Kemungkinan tidak dapat berjalan atau berbicara • Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara
• Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas
• Memerlukan perawatan khusus

3. Penyebab Retardasi Mental
Retardasi mental dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
a. Genetik.
1) Kerusakan/Kelainan Biokimiawi.
2) Abnormalitas Kromosomal (chromosomal Abnormalities).
Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 – 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 – 50.
b. Pada masa sebelum kelahiran (pre-natal).
1) Infeksi Rubella (Cacar)
2) Faktor Rhesus (Rh)
c. Pada saat kelahiran (natal)
Retardasi mental/ tunagraita yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir prematur.
d. Pada saat setelah lahir (post-natal)
e. Penyakit-penyakit akibat infeksi, misalnya: Meningitis (peradangan pada selaput otak) dan problema nutrisi yaitu kekurangan gizi misalnya: kekurangan protein yang diderita bayi dan awal masa kanak-kanak dapat menyebabkan retardasi mental.
f. Faktor sosio-kultural.
Sosio kultural atau sosial budaya lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan intelektual manusia.
g. Malnutrisi berat.
Kekurangan makanan bergizi semasa bayi dapat mengganggu pertumbuhan dan fungsi syaraf pusat. Malnutrisi ini kebanyakan terjadi pada kelompok ekonomi lemah.
h. Gangguan Metabolisme/Nutrisi.
1) Phenylketonuria. Gangguan pada metabolisme asam amino, yaitu gangguan pada enzym Phenylketonuria.
2) Gargoylisme. Gangguan metabolisme saccharide dalam hati, limpa kecil, dan otak.
3) Cretinisme. Gangguan pada hormon tiroid yang dikenal karena defisiensi yodium.
4. Karakteristik anak retardasi mental
Karakteristik anak retardasi mental menurut Brown et al, 1991; Wolery & Haring, 1994 pada Exceptional Children, fifth edition, p.485-486, 1996 dalam Maghdita Sekar, dkk (2007) menyatakan:
a. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
b. Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
c. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat.
d. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga retardasi mental berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala.
e. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
f. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
g. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll.
Sedangkan menurut S.M. Lumbantobing, 2001 dalam Rosmala Dewi, 2005, ada bebrapa karakteristik yang dapat dijadikan pertanda untuk mengenali anak retardasi mental, antara lain:
a. Sejak lahir perkembangan mentalnya terbelakang disemua aspek perkembangan, kecuali perkembangan motorik, misalnya mereka dapat berdiri, merangkak, dan berjalan.
b. Terbelakang dalam perkembangan bicara.
c. Kurang memberi perhatian terhadap sekitarnya, misalnya tidak bereaksi terhadap bunyi atau suara yang terdengar.
d. Kurang dapat berkonsentrasi. Perhatian terhadap mainan hanya berlangsung singkat atau kadang-kadang bila diberi mainan tidak mengacuhkannya.
e. Kesiagaannya kurang, misalnya jika mainan jatuh dihadapanya ia tidak berusaha untuk mengambilnya.
f. Kurang memberi respon terhadap lingkuangan jika dibanding dengan anak normal.
g. Usia 2-3 tahun masih suka memasukkan mainan ke dalam mulutnya.

C. PEMBAHASAN
1. HASIL OBSERVASI
a. Kondisi fisik anak dan orang tua
1) Kondisi fisik dan psikis anak
KR adalah anak laki-laki lahir tanggal 26 Mei 2002 (usia 7 tahun), dan duduk di kelas 1. KR adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, dapat di diskripsikan kondisi KR sebagai berikut:
a) Pada umumnya tidak ditemukan kelainan fisik yang menonjol pada diri KR. Akan tetapi, apabila diamati tubuh KR cendurung kurus dan kecil tidak seperti anak pada usia 7 tahun pada umumnya.
b) KR cenderung pendiam, tidak banyak bereaksi terhadap hal-hal yang ada disekitarnya, bahkan terhadap rangsangan bunyi-bunyian yang terdengar.
c) Kemampuan komunikasi KR cukup berkembang. Bicaranya jelas, akan tetapi cara bicaranya lambat dan pelan.
d) Karena KR merupakan anak yang terkecil di rumahnya, ia cenderung manja dan segala kemauannya ingin segera di penuhi.
e) KR sulit menerima pelajaran di sekolah dan sulit menerima materi kognitif. Jika di sekolah KR di temani oleh guru pendamping.
f) Daya ingatnya sangat kurang, susah untuk berkonsentrasi, serta perhatiannya tidak bisa fokus.
g) KR mengalami kesulitan belajar (learning disability). Ia belum bisa membaca dan menulis, apabila mengerjakan sesuatu terburu-buru dan ingin cepat selesai tetapi hasilnya tidak maksimal. Kalau diingatkan orang disekitarya, emosinya cenderung meluap-luap.
h) Gerak motorik kasarnya seperti anak-anak pada umumnya, bahkan lebih atraktif dan dapat bermain dengan anak normal lainnya. Bahkan sampai sekarang RM masih mengkonsumsi obat dari dokter, yang menurut keterangan ibunya, obat ini merupakan obat untuk anak hiperaktif.
i) KR bisa melakukan kegiatan merawat diri seperti memakai baju, makan, mandi walaupun dengan bantuan.
2) Kondisi fisik orang tua
Orang tua KR (ayah berusia 38 tahun, ibu juga berusia 38 tahun). Ayah bekerja sebagai guru, sedangkan ibu sebagai ibu rumah tangga. Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi fisik orang tua KR normal, tidak mengalami gangguan yang berarti. Kondisi saudara KR juga normal.
b. Kondisi lingkungan sekitar
KR tinggal di lingkungan perkampungan dimana jauh dari keramaian kota. Depan rumah berupa jalan biasa, akan tetapi lalu lintasnya agak ramai yakni sering dilewati oleh kendaraan bermotor. Rumah KR tidak berada di dekat tempat-tempat keramaian seperti pasar, terminal, maupun pabrik.
c. Kondisi ekonomi orang tua
Kondisi ekonomi orang tua bisa dikatakan sebagai golongan menengah. Walaupun ibunya sebagai ibu rumah tangga, akan tetapi ayahnya sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap sebagai guru.
d. Adaptasi anak dengan orang lain/ teman
Kemampuan sosial anak cukup berkembang, kemampuan komunikasinya juga berkembang meskipun agak lamban. KR suka bermain dengan anak yang lebih muda darinya, yaitu suka bergaul dengan anak-anak TK dan dibawahnya. Akan tetapi di lingkungan baru, ia susah untuk menyesuaikan diri. Di lingkungan baru KR cenderung pendiam dan kurang berkomunikasi.
2. HASIL WAWANCARA
a. Riwayat kesehatan orang tua dan anak
1) Riwayat kesehatan anak
Kondisi kesehatan anak cenderung normal-normal saja, tidak ada penyakit serius yang diderita oleh anak tersebut. Penyakit yang pernah diderita hanya sebatas penyakit flu, batuk atau demam saja. Akan tetapi pada bulan agustus yang lalu KR menjalani opname di rumah sakit selama 1 minggu. KR di opname karena sakit demam, yang menurut keterangan dari ibunya karena imunisasi campak. Panasnya tinggi dan sempat kejang (step).
2) Riwayat kesehatan orang tua
Berdasarkan keterangan dari nara sumber, kondisi kesehatan orang tua normal. Tidak ada penyakit yang cukup serius. Akan tetapi untuk ibunya, terkadang mengalami hipertensi/ tekanan darah tinggi.
b. Riwayat pendidikan
1) Riwayat pendidikan anak
KR pernah mengalami pendidikan Taman Kanak-kanak di salah satu TK di kota Sukoharjo. KR juga pernah belajar di YPAC selama 3 tahun. Dan sekarang bersekolah di Sekolah Dasar, serta menjalani terapi di salah satu klinik senter anak berkebutuhan khusus di Surakarta.
2) Riwayat pendidikan orang tua
Pendidikan terakhir ayah adalah S1 keguruan, sedangkan pendidikan terakhir ibu adalah SMA.
c. Minat dan cita-cita anak
Berdasarkan keterangan dari orang tua KR, KR pernah mengungkapkan cita-citanya, walaupun dianggap aneh oleh orang tuanya. KR ingin menjadi robot, tentara, dan menjadi seperti mainan. Karena keseharian KR bermain di rumah bersama alat-alat permainan di rumahnya, jadi menurut ibunya karena itulah KR bercita-cita seperti tersebut diatas.
d. Pola asuh
KR sangat dekat dengan seluruh anggota keluargnya. Bahkan kemanapun KR pergi sering ditemani oleh ibunya. Selain dekat dengan ibunya KR juga dekat dengan ayah dan kakaknya. Karena kondisi KR tersebut, ia cenderung dimanjakan oleh ibunya. Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa apabila keinginannya tidak dituruti KR akan cenderung emosional.
e. Kondisi prenatal, natal, dan post natal
1) Kondisi prenatal
Kondisi prenatal adalah kondisi sebelum kelahiran atau kondisi pada saat kehamilan. Pada dasarnya kondisi kehamilan ibu RM normal dan baik-baik saja. Ibu RM hamil pada usia sekitar 32 tahun. Mengandung RM adalah merupakan kehamilan yang kedua dimana jarak dengan kehamilan sebelumnya adalah 8, 5 tahun. Akan tetapi menurut keterangan nara sumber, ibu RM terkadang mengidap tekanan darah tinggi pada saat hamil walaupun tidak begitu sering.
Pada saat kehamilan, nutrisi ibu juga tercukupi. Ibu tersebut juga tidak mengkonsumsi obat-obatan yang berlebihan, merokok, maupun minum alcohol.
2) Kondisi natal
Kondisi natal adalah kondisi saat kelahiran. Proses kelahiran RM adalah normal, tidak di vakum, di pacu maupun cessar. Akan tetapi proses kelahiran KR memakan waktu yang sangat lama yaitu mencapai 1 hari 1 malam.
3) Kondisi post natal
Kondisi post natal adalah kondisi setelah kelahiran. Pada masa setelah kelahiran/ pada waktu bayi RM tidak mengidap penyakit tertentu yang cukup berarti, baik penyakit karena infeksi, virus, maupunyang lainnya.
Menurut keterangan nara sumber yang dapat dipercaya, KR pada waktu bayi sering menangis dan susah untuk diam. Menangis baik karena haus, lingkungan yang panas, ngompol, dll. Pada waktu itu ibu juga sempat bingung kenapa anak sering menangis dan susah diamnya, namun lama-kelamaan ibu dan bapaknya mengabaikannya, karena mereka anggap bahwa anak bayi menangis itu wajar-wajar saja.
3. DIAGNOSA
Diagnosa adalah suatu proses untuk mengetahui faktor penyebab suatu kejadian. Proses diagnosa terhadap anak penderita retardasi mental ini, dilakukan oleh penulis dengan cara observasi dan wawancara kepada pihak yang terkait dengan anak penderita retardasi mental.
Seorang anak retardasi mental menunjukkan perkembangan yang secara signifikan lebih lambat dibandingkan dengan anak lain yang sebaya. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, didapatkan ciri-ciri KR yang menunjukkan kriteria anak retardasi mental, antara lain:
a. Kurang dapat menangkap hal-hal yang baru maupun pengetahuan baru. Belum bisa membaca dan menulis di usia 7 tahun.
b. Kurang dapat berkonsentrasi, dan memori yang sangat pendek.
c. Tidak peka terhadap rangsangan dari luar termasuk terhadap rangsangan berupa bunyi-bunyian dan suara.
d. Perkembangan bicara yang berkembang aagak lambat dibandingkan anak-anak sebayanya.
e. Suka bermain/ bergaul dengan anak-anak yang lebih muda/ dibawah umurnya.
f. Bisa melakukan kegiatan perwatan diri tetapi dengan bantuan dari orang lain.
g. Emosi yang kurang bisa dikendalikan. Tergesa-gesa dan terkadang emosional apabila keinginan tidak di turuti.
Dari ciri-ciri diatas, penulis mendiagnosa bahwa anak yang bernama KR menderita Retardasi Mental Sedang (Moderat), dimana
kelompok ini masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat, anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis, ditemukan penyebab terjadinya keterbelakangan mental yang terjadi pada diri KR, yaitu antara lain:
a. Pada kondisi prenatal/ pada waktu dalam kandungan, ibu KR mengidap tekanan darah tinggi.
b. Proses kelahiran KR yang begitu lama memungkinkan terjadinya luka-luka pada proses kelahiran yang dapat menyebabkan terjadinya retardasi mental pada anak tersebut.
c. Pada kondisi post natal/ setelah kelahiran/ pada masa bayi KR selalu menangis dan keadaan itu diabaikan oleh orang tuanya.
d. Kurangnya rangsangan pada waktu masih bayi, yakni KR dibiarkan menangis secara berlebihan dan diabaikan oleh orang tuanya. Hal ini memungkinkan terjadinya ketidak pekaan terhadap rangsangan yang luar.
e. Kondisi lingkungan perkampungan yang masih agak primitif sehingga memungkinkan kurangnya pengetahuan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai untuk anak, maupun pada saat ibu dalam masa kehamilan.
4. PROGNOSA
Prognosa merupakan penyusunan rencana alternatif pelaksanaan terapi/ bimbingan mulai dari jenis terapi yang sesuai dengan kondisi anak. Prognosa untuk penderita retardasi mental relatif stabil dari masa kanak – kanak sampai dengan dewasa. Untuk penderita dengan kategori moderate ini kemungkinan dapat berhasil disembuhkan, walaupun membutuhkan pendidikan, komunitas, dukungan keluarga, dan pelatihan vokasional.
Adapun kasus yang terjadi pada KR, berdasarkan diagnosa yang dilakukan oleh penulis, dapat di ambil kesimpulan bahwa prognosa ini bersifat positif yang berarti bahwa retardasai mental yang diderita oleh KR mempunyai kemungkinan untuk sembuh karena terdapat kondisi-kondisi yang mendukung kesembuhannya. Kondisi itu antara lain:
a. Orang tua, keluarga dan pihak sekolah menyadari akan kekurangan pada diri KR dan berusaha untuk menyembuhkannya. Hal ini akan sangat mendukung kesembuhan KR.
b. Orang tua sudah mengikutkan KR pada proses terapi, hal ini memungkinkan kesembuhan pada KR karena ditangani oleh pihak yang berkompeten.
c. Disekolah KR didampingi oleh guru pendamping khusus, hal ini lebih meningkatkan pengawasan serta latihan-latihan yang lebih intensif.
Dilihat dari kondisi yang terjadi pada diri KR, rencana perlakuan/ terapi yang tepat untuk KR antara lain:
a. Okupasi terapi untuk mengatasi permasalahan pada aspek sensori motorik, fisik, kognitif, intrapersonal-interpersonal, parawatan diri/ Activity Daily Living (ADL), dan produktivitas.
b. Treatmen yang berupa terapi keluarga, tujuan terapi ini untuk membantu anggota keluarga untuk memahami tentang retardasi mental.
c. Terapi kelompok, merupakan format yang baik sehingga membuat mereka belajar dalam kehidupan nyata mereka dan menerima umpan balik.
d. Terapi tingkah laku berguna untuk membentuk tingkah laku sosial, mengontrol perilaku agresif atau tingkah laku yang merusak.
5. INTERVENSI/ TREATMEN/ PERLAKUAN
Treatmen yang dapat diberikan kepada anak retardasi mental adalah:
a. Occuppasional Therapy (okupasi terapi)
American Occupational Therapy Assosiation (Muryanto: 1989 dalam Sujarwanto: 2005) mengemukakan Terapi Okupasi adalah suatu perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan untuk menunjukkan jalan dari respon penderita dalam bentuk kegiatan yang sudah diseleksi yang digunakan untuk membantu dan memelihara kesehatan, menanggulangi kecacatan, menganalisa tingkah laku, memberikan latihan dan melatih pasien menderita kelainan fisik, mental serta fungsi sosialnya.
Sesuai dengan problema yang dialami anak retardasi mental yaitu pada aspek sensori motorik, fisik, kognitif, intrapersonal-interpersonal, parawatan diri/ Activity Daily Living (ADL), produktivitas, maka kegiatan terapi okupasi diarahkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.
1) Sensori motorik
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek sensori motor. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Meraba benda keras dan lunak
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan sensori perabaan agar dapat berkembang seoptimal mungkin.
Tujuan khusus : melatih anak membedakan benda keras, lunak.
Kegiatan : membedakan benda keras dan lunak
Waktu : 1 x pertemuan 30 menit
Pelaksanaan : anak disuruh meraba benda keras maupun lunak/ halus sesuai bimbingan guru.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat membedakan benda keras dengan benda lunak atau tidak? Apakah selama mengikuti latihan anak senang atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila selama mengikuti latihan tidak ada perkembangan dan anak-anak tidak merasa senang, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.

2) Fisik
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek fisik. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Naik sepeda statis
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan kesegaran fisik agar dapat berkembang seoptimal mungkin.
Tujuan khusus : melatih kekuatan otot kaki, tangan.
Kegiatan : mengayuh sepeda
Waktu : 1 x pertemuan 30 menit
Pelaksanaan : dilakukan tes kekuatan otot (muscle test), anak disuruh mengayuh sepeda statis dibimbing guru. Pada saat pelaksanaan latihan mengayuh sepeda diselingi istirahat.
Evaluasi : dilakukan test kekuatan otot (muscle test). Selama mengikuti kegiatan ada peningkatan kekuatan otot kaki, otot tangan atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila kekuatan otot kaki, otot tangan tidak meningkat, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.
3) Kognitif
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek kognitif. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Senam diiringi musik
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan kognitif
Tujuan khusus : memusatkan perhatian pada focus (senam diiringi musik).
Kegiatan : senam irama
Waktu : 1 x pertemuan 30 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh gerakan senam diiringi musik, anak disuruh melakukan senam diiringi musik dibimbing guru.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat senam diiringi musik atau tidak? Apakah selama mengikuti latihan anak senang atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak mengikuti senam diiringi musik, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.
4) Intrapersonal-Interpersonal
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek intrapersonal-interpersonal. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Bermain layang-layang
Tujuan umum : mengembangkan interpersonal-intrapersonal
Tujuan khusus : menghilangkan rendah diri, melatih sosialisasi
 Kegiatan : Bermain layang-layang
Waktu : 1 x pertemuan 30-45 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh cara memainkan layang-layang, anak disuruh bermain laying-layang.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat memainkan laying-layang atau tidak? Apakah selama mengikuti latihan anak senang atau tidak? Apakah anak dapat berkomunikasi dengan teman atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak dapat memainkan laying-layang dan tidak dapat berkomunikasi dengan temanya, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi
5) Parawatan diri/ activity daily living (ADL)
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek Parawatan diri/ activity daily living (ADL). Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Memakai baju
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan merawat diri sendiri
Tujuan khusus : meningkatkan kemampuan memakai baju sendiri
Kegiatan : memakai baju
Waktu : 1 x pertemuan 15-20 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh cara menanam bunga, anak disuruh menanam bunga di kebun
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat melakukan pekerjaan berkebun atau tidak? Selam mengikuti kegiatan anak merasa senang atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak melakukan kegiatan berkebun, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi
6) Produktivitas
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek produktivitas. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Berkebun
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan ketrampilan produktif
Tujuan khusus : mengembangakan kemampuan berkebun
Kegiatan : menanam bunga
Waktu : 1 x pertemuan 30-45 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh cara memakai baju dengan benar, anak disuruh memakai baju dengan benar.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat memakai baju atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak dapat memakai baju dengan benar, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.
b. Play therapy (Terapi bermain)
Terapi yang diberikan kepada anak retardasi mental dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.
c. Life Skill (Keterampilan hidup)
Anak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator. Bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.
d. Vocational Therapy (Terapi Bekerja)
Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.
6. HUBUNGAN ANTARA TEORI DENGAN KASUS
Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh penulis. Ditemukan hal-hal yang relevan maupun tidak relavan antara kasus dengan teori yang dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain:
a. Berdasarkan karakteristik
1) KR sulit menerima pengetauan dan memeori yang sangat pendek. Hal ini sesuai dengan teori bahwa anak retardasi mental lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
2) Kemampuan bicara KR cukup berkembang. Dalam hal ini menurut teori keadaan KR tersebut masuk dalam klasifikasi retardasi mental sedang (moderat), karena anak RM berat kemampuan bicaranya sangat rendah.
3) Dalam teori anak RM kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, akan tetapi dalam kasus yang dialami KR dia dapat melakukan kegiatan perawatan diri walaupun dengan sedikit bantuan dari orang disekitarnya.
4) Teori menyebutkan bahwa anak penderita RM bertingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll. Hal ini tidak terjadi pada kasus yang dialami oleh KR.
5) Kurang memberi perhatian terhadap sekitarnya, misalnya tidak bereaksi terhadap bunyi atau suara yang terdengar. Berdasarkan teori menurut DSM IV (1994) tersebut diatas sesuai dengan keadaan yang dialami oleh KR yakni tidak menghiraukan lingkungan disekitarnya, dia sibuk dengan keinginannya sendiri.
6) Menurut DSM IV (1994) anak penderita RM kurang dapat berkonsentrasi. Hal ini sesuai dengan kasus yang dialami oleh RM yakni dia sangat sulit untuk berkonsentrasi dan sering tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu hal.
7) Kesiagaannya kurang, misalnya jika mainan jatuh dihadapanya ia tidak berusaha untuk mengambilnya. Karakteristik menurut teori ini tidak muncul pada diri KR.
8) Usia 2-3 tahun masih suka memasukkan mainan ke dalam mulutnya. Menurut teori ini tidak terjadi pada kasus yang dialami oleh KR.
b. Berdasarkan faktor penyebab
1) Berdasarkan kasus yang dialami oleh KR bahwa retardasi mental yang dideritanya disebabkan oleh kondisi prenatal yaitu ibu yang menderita tekanan darah tinggi. Hal ini sesuai dengan teori dimana ibu penderita tekanan darah tinggi beresiko melahirkan anak dengan keterbelakangan mental/ retardasi mental.
2) Pada proses kelahiran KR memakan waktu cukup lama, sehingga memungkinkan terjadinya luka-luka pada saat kelahiran. Hal ini dapat menyebabkan adanya kecacatan mental. Kondisi ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa retardasi mental/ tunagrahita dapat disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran seperti luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir prematur.
3) Salah satu penyebab KR menderita retardasi mental salah satunya adalah kondisi lingkungan perkampungan yang masih agak primitif sehingga kurangnya pengetahuan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai untuk anak, maupun pada saat ibu dalam masa kehamilan. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa retardasi mental dapat disebabkan oleh lingkungan sekotar dan kurangnya pemenuhan zat gizi tertentu.
c. Berdasarkan klasifikasi anak RM
Klasifikasi anak cacat mental menurut DSM IV (1994) dalam Rosmala Dewi (2005) menjelaskan bahwa retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40-54, adalah kelompok kecacatan yang dapat dilatih. Kelompok ini masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat, anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif. Hal ini sesuai dengan kondisi yang terjadi pada diri KR, dimana kemampuan bicaranya cukup berkembang dan dapat mengurus/ merawat diri walau agak lambat. Oleh karena itu berdasarkan teori dan pengamatan dari penulis KR masuk dalam klasifikasi retardasi mental sedang (moderate) dan membutuhkan pelatihan dan terapi yang intensif untuk membantu perkembangannya.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Retardasi mental ialah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat intelligensi yang dibawah rata-rata (IQ kira-kira 70 atau lebih rendah) serta kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan social.
b. Factor penyebab keterbelakangan mental/ retardasi mental ada berbagai macam antara lain kondisi sebelum kelahiran (pre-natal), pada saat kelahiran (natal), pada saat setelah lahir (post-natal), penyakit-penyakit akibat infeksi, serta faktor sosio-kultural termasuk kondisi lingkungan dan tingkat pendidikan orangtua.
c. Keterbelakangan mental atau retardasi mental dapat diklasifikasikan menjadi 4 antara lain Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69 yakni kecacatan yang dapat dididik, retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40-54 yakni kecacatan yang dapat dilatih, retardasi mental berat (severe mental retardation) dengan IQ: 20 – 39 dimana tidak mampu berkomunikasi dalam bentuk bahasa serta retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 biasaya mereka secara total tergantung pada lingkungan.
d. Diagnosis kepada anak retardasi mental dapat dilakukan dengan wawancara dan obeservasi tentang keadaan fisik, keadaan prenatal, natal, dan postnatal, keadaan lingkungan sekitar anak, serta melakukan test IQ berdasarkan standar yang telah ditentukan. Setelah mendapatkan data-data kemudian dilakukanlah penelusuran factor yang menyebabkan kelainan pada anak retardasi mental tersebut.
e. Prognosis untuk penderita retardasi mental relatif stabil dari masa kanak – kanak sampai dengan dewasa. Untuk penderita dengan kategori mild sampai moderate kemungkinan dapat berhasil disembuhkan, walaupun mereka membutuhkan pendidikan, komunitas, dukungan keluarga, dan pelatihan vokasional. Akan tetapi untuk penderita retardasi mental severe dan profound, kemungkinan berkembang cukup sulit. Mereka mempunyai harapan hidup yang pendek, karena masalah kesehatannya.
f. Terapi yang dapat diterapkan untuk anak dengan keterbelakangan mental antara lain Occuppasional Therapy (Terapi okupasi), Play therapy (Terapi bermain)
activity Daily Living (ADL) atau Kemampuan Merawat Diri, Life Skill (Keterampilan hidup), Vocational Therapy (Terapi Bekerja).

2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:
a. Bagi orang tua dan guru hendaknya dapat mendeteksi adanya keterbelakangan mental pada anak atau anak didiknya sejak dini agar dapat memberikan pendidikan dan terapi yang tepat bagi perkembangan anak.
b. Bagi orang tua yang memiliki anak retardasi mental tidak perlu malu menerima keadaan anaknya dan mengusahakan konsultasi dengan pihak yang berkompeten agar dapat memberikan pendidikan yang tepat dan dukungan yang baik bagi anak.
c. Pihak-pihak yang terkait hendaknya menerapkan terapi yang tepat untuk tumbuh kembang anak yang optimal meski memiliki kebutuhan khusus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: