Tuhanku…

Aku berdo’a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau

Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting

Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau

dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya

Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas

Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku

Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi

Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya

Tuhanku…

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,

sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya

Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya

Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Tuhanku…

Aku juga meminta,

Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga

Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya

Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,

mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:

“Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat

Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

Amin….

do’a akhwat yg merindukan seorang pendamping

Tuhanku…

Aku berdo’a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau

Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

 

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting

Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau

dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya

Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

 

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas

Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku

Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

 

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi

Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya

 

Tuhanku…

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,

sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya

Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya

Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

 

Tuhanku…

Aku juga meminta,

Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga

Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

 

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya

Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,

mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

 

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:

“Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

 

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat

Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

 

Amin….

MODEL PEMBELAJARAN AUD

HAKIKAT MODEL PEMBELAJARAN

A. Pengertian model
Model diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda sesungguhnya, seperti globe adalah model dari bumi tempat kita hidup.
Model secara sederhana adalah ”gambaran” yang dirancang untuk mewakili kenyataan. Model didefinisikan sebagai “a replica of the fhenomena it attempts to explain” (Runyon, dalam Rakhmat, 1988:59).
B. Pengertian Pembelajaran
Dalam proses pendidikan di sekolah secara keseluruhan, pembelajaran merupakan aktivitas paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.Lebih lengkap baca disini.
Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan mempengaruhi cara guru itu dalam mengajar. Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para pakar, secara umum pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap Surya (2002:11) mendefinisikan pembelajaran sebagai berikut: ”Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut di atas ialah
1. Pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami pembelajaran akan berubah perilakunya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku itu adalah hasil pembelajaran. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ini:
a. Perubahan yang disadari. Artinya individu yang melakukan proses pembelajaran menyadari bahwa pengetahuannya telah bertambah, keterampilannya telah bertambah dan mungkin saja ia telah lebih yakin terhadap kemampuan dirinya.
b. Perubahan yang bersifat kontinyu (berkesinambungan). Artinya suatu perubahan yang telah terjadi sebagai hasil pembelajaran akan menyebabkan terjadinya perubahan yang lain. Misalnya, seorang anak yang telah belajar membaca, ia akan berubah perilakunya dari tidak mampu membaca menjadi dapat membaca.
c. Perubahan yang bersifat fungsional. Artinya perubahan yang telah diperoleh sebagai hasil pembelajaran memberikan manfaat bagi individu yang bersangkutan.
d. Perubahan yang bersifat positif. Artinya terjadi adanya pertambahan perubahan dalam diri individu. Perubahan yang diperoleh senantiasa bertambah sehingga berbeda dengan keadaan sebelumnya.
e. Perubahan yang bersifat aktif. Artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi melalui aktivitas individu.
f. Perubahan yang bersifat permanen. Artinya perubahan yang terjadi sebagai hasil pembelajaran akan berada secara kekal dalam diri individu, setidak-tidaknya untuk masa tertentu.
g. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Artinya perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai.
2. Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung arti bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan perilaku itu meliputi aspek-aspek perilaku kognitif, afektif dan juga motorik.
3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan. Di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Jadi, pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. Pembelajaran tidak dapat dilepaskan dengan interaksi individu dengan lingkungannya.
4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung arti bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena ada sesuatu yang mendorong dan sesuatu yang ingin dicapai. Hal yang mendorong adalah karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan, dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip itu, maka pembelajaran akan terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang perlu dicapai untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan.
5. Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu. Pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pembelajaran, pada dasarnya merupakan pengalaman. Hal ini berarti bahwa selama individu dalam proses pembelajaran hendaknya tercipta suatu situasi kehidupan yang menyenangkan sehingga memberikan pengalaman yang berarti.
C. Hakikat Pembelajaran Anak Usia Dini
Pada hakikatnya anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan, bersifat aktif dan energik, egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, antusias terhadap banyak hal, bersifat eksploratif dan berjiwa petualang, kaya dengan fantasi, mudah frustrasi, dan memiliki daya perhatian yang pendek. Masa anak merupakan masa belajar yang potensial.
Kurikulum untuk anak usia dini harus benar-benar memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan harus dirancang untuk membuat anak mengembangkan potensi secara utuh. Baik Kurikulum TK 2004 maupun Kurikulum TK 2009 pada dasarnya sama memuat aspek-aspek perkembangan yang dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan perilaku melalui pembiasaan dan bidang kemampuan dasar.
Pembelajaran anak usia dini pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi bermain (belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar), pembelajaran yang berorientasi perkembangan yang lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk dapat belajar dengan cara-cara yang tepat. Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak.
D. Pengertian Model Pembelajaran
Model dalam konteks pembelajaran, Joyce dan Weil (Udin S.Winataputra, 2001) mendefinisikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Dalam kegiatan pembelajaran model dapat dimaknai sebagai suatu pola atau gambaran yang menjelaskan tentang berbagai bentuk, pandangan yang terkait dengan kegiatan pembelajaran.
Jadi, Model pembelajaran anak usia dini dapat didefinisikan sebagai serangkaian pola, bentuk, kegiatan ataupun kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar anak usia dini.
E. Model, strategi, metode dan teknik pembelajaran
Model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya/ langkahnya, lingkungannya, dan system pengelolaannya.
Menurut Joyce (1971) model itu lebih luas dari suatu strategi, karena suatu model mengajar menyangkut 4 hal pokok yaitu, tahapan-tahapan model, sistem sosial yang diharapkan, prinsip-prinsip reaksi guru dan peserta didik, serta penunjang yang diisyaratkan.
Strategi merupakan pola umum menentukan kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Dikatakan pola umum, sebab suatu strategi pada hakikatnya belum mengasah pada hal-hal yang bersifat praktis, masih berupa rencana atau gambaran menyeluruh. Sedangkan untuk mencapai tujuan, strategi memang disusun untuk tujuan tertentu. Tidak ada strategi tanpa adanya tujuan yang harus dicapai. Misalkan dalam suatu permainan sepak bola untuk memenangkan pertandingan kita dapat menggunakan strategi menyerang atau bertahan. Maka stelah kita menyusun strategi baru kita tentukan pola atau metode menyerang atau bertahan yang itu pola yang harus dilakukan. Setelah kita menetapkan pola yang sesuai dengan strategi yang diinginkan, baru membicarakan teknik atau taktik permainan.
Pola atau cara yang ditetapkan sebagai hasil dari kajian strategi itu dalam proses pembelajaran dinamakan dengan metode pembelajaran. Jadi dengan demikian metode pada dasarnya berangkat dari suatu strategi tertentu. Sedangkan cara untuk menjalankan metode yang ditetapkan itu dinamakan dengan teknik atau taktik sifat-sifatnya lebih praktis yang disusun untuk menjalankan suatu metode dan strategi tertentu. Dengan kata lain taktik dan teknik itu menunjukkan cara yang dilakukan seseorang yang sifatnya lebih tertumpu pada kemampuan dan pribadi seseorang. Misal ada dua orang guru sama-sama menggunakan metode ceramah yang ditampilkan keduanya bisa berbeda, baik ditinjau dari bahasa yang digunakan, intonasi suara, cara memberikan ilustrasi dan sebagainya.
PEMILIHAN MODEL PEMBELAJARAN

A. PENTINGNYA MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran, dipandang paling punya peran strategis dalam upaya mendongkrak keberhasilan proses belajar mengajar. Karena ia bergerak dengan melihat kondisi kebutuhan anak didik, sehingga guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan tepat tanpa mengakibatkan siswa mengalami kebosanan. Namun sebaliknya, siswa diharapkan dapat tertarik dan terus tertarik mengikuti pembelajaran, dengan keingintahuan yang berkelanjutan.
Berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama antar anak didik, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan anak didik melalui aktivitas individu maupuh kelompok.
B. Kriteria Pemilihan Model Pembelajaran
Untuk memilih/menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu, perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik dan prinsip-prinsip belajar, (seperti kecepatan belajar, motivasi, minat, keaktivan dan umpan balik/penguatan), serta berorientasi pada konsep pembelajaran mutakhir.
Terdapat beberapa kriteria yang harus menjadi pertimbangan guru dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu
a. Karakteristik tujuan pembelajaran apakah untuk pengembangan aspek kognitif, aspek afektif atau psikomotor. Atau apakah pembelajaran itu bertujuan untuk mengembangkan domain fisik-motorik, kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika.
b. Karakteristik anak sebagai peserta didik baik usianya maupun kemampuannya.
c. Karakteristik tema atau bahan ajar yang akan disajikan kepada anak
Semua kriteria ini memberikan implikasi bagi guru untuk memilih model pembelajaran yang paling tepat digunakan pada anak usia dini.

JENIS-JENIS MODEL PEMBELAJARAN PADA ANAK USIA DINI

Pembelajaran anak usia dini dapat dikelompokkan menjadi tiga pendekatan, yaitu: pembelajaran bebas, pembelajaran terpimpin, dan pembelajaran kondusif.
1. Pembelajaran Bebas
Pembelajaran bebas merupakan suatu strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna kepada anak. Strategi ini sangat menguntungkan anak yang memiliki kekuatan untuk mandiri. Anak yang mandiri menunjukkan kepemimpinannya, tidak terlalu tergantung guru. Bila perlu anak datang kepada guru. Kreativitasnya dapat berkembang. Ia pun tidak canggung, kebutuhan bermain anak dicukupi, kegiatan bermain dihargai dan dianggap sebagai cerminan kehidupan yang sebenarnya. Sebaliknya bagi anak yang kurang mandiri, model pembelajaran ini dapat menimbulkan frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukan, putus asa, cemas, bosan, bingung, dan tidak terkendalikan.
Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran bebas:
 Kegiatan pembelajaran berpusat pada anak
 Memberikan pengalaman langsung pada anak
 Strategi pembelajaran kurang terstruktur, bersifat fleksibel
 Kebebasan bermain tidak dibatasi
 Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
Prosedur pembelajaran bebas:
 Pelajari kompetensi dasar pada kelompok dan semester yang sama dari setiap kemampuan yang akan dikembangkan.
 Dalam pelaksanaan pembelajaran bebas perlu mempertimbangkan antara lain alokasi waktu, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan
 Persiapkan alat-alat bermain yang bervariasi untuk menunjang kegiatan yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan
2. Pembelajaran Terpimpin
Berbeda dengan pembelajaran bebas, pembelajaran terpimpin merupakan strategi yang sepenuhnya dikendalikan guru. Guru lebih banyak berbicara dan anak mendengarkan, mengikuti contoh dan perintah guru, melakukan drill dan latihan sesuai rencana guru. Anak yang tidak dapat menangkap contoh, dipisahkan dan dibetulkan guru. Anak merasa berhasil kalau ia dapat menjalankan apa kehendak guru. Suasana pembelajaran diwarnai oleh banyaknya perilaku yang tidak dibenarkan guru sehingga banyak anak membutuhkan peringatan guru terus-menerus untuk menyelesaikan tugasnya.
Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran terpimpin yaitu:
 Berpusat pada perilaku mengajar guru
 Kreativitas anak kurang berkembang
 Menyajikan konsep dan berbagai materi dalam suatu proses pembelajaran untuk dikuasai anak
 Menekankan disiplin, keteraturan prosedur, dan menghargai senioritas
 Hasil belajar ditentukan oleh kegiatan-kegiatan guru dalam mengajar
Prosedur pembelajaran terpimpin yaitu:
 Guru menyusun silabi berdasarkan kompetensi dasar yang akan dikembangkan
 Guru menyiapkan alat-alat peraga/bermain sesuai dengan kompetensi yang telah direncanakan
 Dalam proses pelaksanaannya, anak dikondisikan untuk mentaati instruksi, perintah, dan larangan dari guru
 Penilaian hasil belajar berdasarkan pada penguasaan anak sesuai dengan apa yang diperintah guru

3. Pembelajaran Kondusif (Supportive climate)
Pembelajaran kondusif ini merupakan kombinasi antara suasana pembelajaran bebas dengan suasana pembelajaran terpimpin. Guru dan anak berbagi proses pembelajaran dan pengalaman. Guru berusaha menyeimbangkan secara efektif antara kebebasan aktif bereksplorasi dan membatasi agar merasa aman ketika belajar. Guru mencipta lingkungan pembelajaran dengan penuh pilihan minat. Keteraturan dalam rutinitas. Anak diberi penguatan untuk mengekspresikan diri dan menjalankan keinginannya. Meskipun tugas telah direncanakan oleh guru, anak tetap berkesempatan untuk mengambil keputusan pilihan materi dan bahan. Sepanjang hari guru bertindak sebagai partner yang menaruh minat pada apa yang dilakukan anak. Guru mengamati, mendengarkan, berinteraksi, membesarkan hati anak, membantu memecahkan masalah. Guru memberi model perilaku yang benar dan mengkaitkannya dengan pengalaman anak. Keterlibatan anak untuk bertanggung jawab atas solusi atau hasil pemecahan masalahnya sendiri. Mencipta suasana yang supportive mendukung kebutuhan anak. Anak belajar aktif, mereka fokus pada minat, dan inisatifnya, mencoba ide, bicara tentang apa yang dilakukan, memecahkan masalah sendiri.
Ciri-ciri atau karakteristik utama pembelajaran kondusif antara lain:
 Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.
 Menyenangkan karena bertolak dan minat dan kebutuhan anak.
 Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.
 Mengembangkan keterampilan berpikir anak dengan permasalahan yang dihadapi.
 Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Prosedur pembelajaran kondusif antara lain:
 Pembelajaran kondusif dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna dan utuh.
 Dalam pelaksanaan pembelajaran kondusif perlu mempertimbangkan antara lain alokasi waktu, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan.
 Pilihlah tema yang terdekat dengan anak.
 Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai dari pada tema.
Model- model pembelajaran anak usia dini berdasarkan aliran-aliran, baik dalam kajian psikologi dan filsafat. Diantara pandangan tersebut adalah sebagai berikut ini :
1. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Behaviorisme
Menurut pandangan ini, belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur (meassurable). Behaviorisme menolak suatu referensi terhadap keadaan atau proses mental internal yang tidak dapat diamati dan diukur. Pendekatan terhadap belajar ini dicontohkan oleh kerja Thorndike & Skinner (Masitoh, dkk, 2003) yang didasarkan atas suatu anggapan dari penelitian terhadap hewan dalam situasi belajar. Didasarkan pada eksperimen tersebut, kaum behavioris mengembangkan hipotesis bahwa proses belajar adalah penerapan hubungan stimulus-respon dengan control dari lingkungan dan control itu merupakan suatu hal yang potensial untuk penguatan.
Menurut teori ini setiap orang merespon terhadap berbagai variabel yang terdapat dalam lingkungan. Kekuatan-kekuatan eksternal merangsang individu untuk bertindak dengan cara-cara tertentu mungkin positif, dan mungkin negatif. Karena teori ini didasari oleh asumsi bahwa pada prinsipnya individu itu dapat dibentuk oleh lingkungan, maka perlakuan terhadap individu melalui tugas, ganjaran, dan disiplin adalah sangat penting untuk mengembangkan kemampuan anak. Guru harus mempunyai peranan yang sangat dominan dalam mengendalikan proses pembelajaran mulai dari penentuan tujuan yang harus dicapai, pemilihan materi, sumber, dan metode pembelajaran maupun dalam proses mengevaluasi
Dalam pandangan behaviorisme anak akan berkembang berdasarkan prinsip ganjaran dan hukuman (reward & punishment).
2. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Kognitivisme
Pandangan kognitif tentang belajar antara lain diilhami oleh hasil kerja Jean Piaget dan sejawatnya. Menurut Cohen (Masitoh, dkk, 2003)), model belajar ini secara umum ditandai sebagai tahapan teori yang menganjurkan bahwa proses berfikir anak dikembangkan melalui empat tahap yang berbeda. Menurut pendekatan ini proses berpikir bergantung pada suatu kemampuan untuk mencipta, memperoleh dan mengubah gambaran internal tentang segala sesuatu yang dialami di lingkungan.
Pendekatan kognitif menekankan pada proses asimilasi dan akomodasi. Dalam hal ini anak menjadi problem solver dan pemroses informasi atau transformation processor. Aspek-aspek tersebut merupakan suatu rangkaian dalam proses belajar. Menurut pendekatan kognitif, belajar adalah sebagai perubahan perkembangan.
3. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruksivisme
Menurut pandangan ini anak adalah pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Menurut De Vries (Masitoh, dkk, 2003)) anak harus membangun pengetahuan ketika mereka bermain. Anak membangun kecerdasannya, kemampuan untuk nalar, moral dan kepribadiannya. Pendekatan ini sangat menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses belajar. Proses belajar hendaknya menyenangkan bagi anak, alami, melalui bermain, dan memberi kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut David H. Janassen (Masitoh, dkk, 2003)), “Constructivism proposes that learning environments should support multiple perspectives or interpretations of reality, knowledge, construction, and context, experience based activities”. Artinya faham konstruktivisme menyatakan bahwa lingkungan belajar harus dapat mendukung berbagai perspektif atau interpretasi tentang kenyataan, pengetahuan, konstruksi dan konteks pengalaman yang didasarkan pada kegiatan.
Menurut pandangan konstrukvistik anak akan dapat mengembangkan potensi mereka jika diberikan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri
4. Model Pembelajaran Menurut Pendekatan High / Scope
Menurut pendekatan ini, anak memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuannya dan melibatkan interaksi yang bermakna antara anak dengan orang dewasa. Pengalaman sosial terjadi dalam konteks kehidupan nyata dimana anak memutuskan rencana dan inisiatifnya sendiri. Keterlibatan anak dalam proses belajar sangat penting sehingga mereka memperoleh kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan lingkungannya, dengan demikian lingkungan belajar harus dapat mendukung aktivitas belajar anak.
5. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Progresivisme
Menurut Kohlberg dan Layen (Masitoh, dkk, 2003)) aliran ini berpandangan bahwa belajar adalah perubahan dalam pola berpikir melalui pengalaman memecahkan masalah. Ketika anak berinteraksi dengan lingkungan pengalaman nyata dan objek-objek nyata, anak akan mengalami masalah. Anak akan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya, dan ketika itu pula akan terjadi perubahan pola berpikir mereka.

Pengenalan matematika anak usia dini

HAKIKAT PENGENALAN MATEMATIKA ANAK USIA DINI

Definisi

Matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antar bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian persoalan mengenai bilangan (pusat pembinaan dan pengembangan bahasa (1991).

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin di sampaikan (suriasumantri, 1982)

Matematika sebagai ilmu tentang struktur dan hubungan-hubunganya memerlukan simbol-simbol  untuk membantu memanipulasi aturan-aturan melalui operasi yang ditetapkan (Paimin, 1998)

Kesimpulan, matematika adalah sesuatu yang berkaitan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis melalui penalaran yang bersifat deduktif, sedangkan matematika di  PAUD adalah kegiatan belajar tentang konsep matematika melalui aktifitas bermain dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat ilmiah.

TUJUAN PENGENALAN MATEMATIKA PADA ANAK USIA DINI:

  1. A.   Tujuan Umum

Agar anak mengetahui dasar-dasar pembelajaran berhitung/ matematika, sehingga pada saatnya nanti anak akan lebih siap mengikuti pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih komplek.

  1. B.   Tujuan khusus
  2. Dapat berpikir logis dan sistematis sejak dini melalui pengamatan terhadap benda-benda kongkrit, gambar-gambar atau angka-angaka yang terdapat di sekitar anak.
  3. Dapat menyesuaikan dan melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang dalam kesehariannya memerlukan keterampilan berhitung.
  4. Memiliki ketelitian, konsentrasi, abstraksi dan daya apresiasi yang tinggi.
  5. Memiliki pemahaman konsep ruang dan waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan urutan sesuatu peristiwa terjadi di sekitarnya.
  6. Memiliki kreativitas dan imajinasi dalam menciptakan sesuatu secara spontan.

Continue reading

PEMANFAATAN MEDIA AUDIO VISUAL SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN
BAHASA INGGRIS ANAK USIA DINI
(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas di TKIT Mutiara Hati Klaten)
Disusun oleh:
MILA FAILA SHOFA

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan ketrampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup. Aspek yang dikembangkan dalam pendidikan prasekolah adalah aspek pengembangan perilaku dengan pembiasaan meliputi sosial, emosi, kemandirian, nilai moral dan agama, serta pengembangan kemampuan dasar, yang meliputi pengembangan bahasa, kognitif, seni, dan fisik motorik.
Anak usia dini merupakan masa keemasan (golden age), oleh karena itu pendidikan pada masa ini merupakan pendidikan yang sangat fundamental dan sangat menentukan perkembangan anak selanjutnya. Apabila mendapatkan stimulus yang baik, maka seluruh aspek perkembangan anak akan berkembang secara optimal. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini harus dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak baik perkembangan perilaku, bahasa, kognitif, seni maupun fisik motorik.
Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dengan bahasa. Ia harus mampu menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Dengan mampu menggunakan bahasa, mereka akan mudah dalam bergaul dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan
manusia (Suhartono, 2005: 12). Dengan demikian perkembangan bahasa harus dirangsang sejak dini.
Pemerolehan bahasa pada anak usia dini terdapat 2 tahapan yaitu pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua (bahasa asing). Yang dimaksud pemerolehan bahasa pertama adalah bahasa pertama yang diperoleh dan dipahami anak dalam kehidupan dan berkomunikasi di lingkungannya. Bahasa pertama sering disebut juga bahasa ibu, karena anak pertama kali berintaraksi dan belajar dengan ibu. Sedangkan bahasa kedua/ asing adalah bahasa anak yang diperoleh setelah bahasa pertama. Bahasa kedua anak di Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia dan asing. Pemerolehan bahasa Indonesia diperoleh anak dalam lingkungan kehidupannya dan di sekolah. Pemerolehan bahasa asing pada umumnya melalui pendidikan informal maupun formal (Suhartono, 2005: 85) Continue reading

diagnostik anak retardasi mental (RM)

DIAGNOSTIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
RETARDASI MENTAL/ KETERBELAKANGAN MENTAL

A. LATAR BELAKANG
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek: gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.
Pekembangan anak perlu didukung oleh keluarga dan lingkungannya, supaya tumbuh kembang anak berjalan secara optimal dan kelak menjadi manusia dewasa berkualitas dan manjadi insan berguna baik bagi dirinya maupun keluarga, bangsa, dan negara. Namun dalam kenyataanya tidak sedikit anak-anak yang mengalami gangguan/ permasalahan baik fisik maupun psikisnya, dimana kita sering menyebutnya sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Sebagai contoh yaitu anak yang menyandang retardasi mental, yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebaai anak yang bodoh/ pandir. Gangguan ini bila mungkin harus dicegah. Diantara upaya yang dapat dilakukan ialah meningkatkan kesehatan ibu hamil, melalui gizi yang sehat, menghindari penyakit, menghindari obat-obat atau kegiatan-kegiatan yang berdampak buruk bagi janin.
Selain itu juga harus diupayakan agar persalinan berlangsung dengan baik, didukung dengan tenaga yang berkompeten. Kesehatan bayi perlu di jaga, dilindungi dari penyakit, cidera otak serta mal nutrisi.
Adanya retardasi mental dapat dideteksi sejak usia dini, melalui penilaian tingkat atau derap perkembangan kecakapan mental bayi atau anak. Pengenalan ini berguna agar kita dapat mendeteksi penyebabnya serta melakukan penanganan yang sesuai dan memberikan stimulasi yang dini.
Deteksi dini anak berkebutuhan khusus ini perlu dilakukan oleh orang tua, guru, maupun orang-orang disekitar anak tersebut. Oleh karena itu orang tua maupun guru harus memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak serta menyadari adanya kelainan-kelainan yang timbul pada anak. Selain mendeteksi dini, terutama untuk tenaga pendidik sebaiknya dapat mendiagnosa kelainan pada anak berkebutuhan khusus sehingga mengetahui penyebab-penyebab terjadinya kelainan dan kemudian dapat melakukan treatmen/ intervensi yang tepat. Dalam penanganan ini guru dapat bekerja sama dengan pihak yang berkopeten misalnya dokter, psikolog, maupun terapis.
Berdasarkan paparan diatas, penting bagi kita sebagai guru untuk mempunyai kemampuan mendeteksi dini kelainan pada anak usia dini. Oleh karena itu, disini kami akan berusaha untuk membahas lebih dalam tentang anak dengan kelainan retardasi mental/ keterbelakangan mental, mendiagnosa, melakukan prognosa, kemudian memilih treatmen yang tepat untuk anak tersebut. Pembahasan ini didukung dengan observasi secara langsung terhadap anak yang menyandang gangguan retardasi mental/ keterbelakangan mental di salah satu klinik center untuk anak berkebutuhan khusus di kota Surakarta.

B. LANDASAN TEORI
1. Definisi Retardasi Mental
Definisi yang dikemukakan oleh ICD 10 (WHO Geneva, 1992) dalam (Lumbantobing, 2001) retardasi mental ialah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya hendaya (impairement) keterampilan (kecakapan, skill) selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelligensi, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan social. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan mental atau fisik lainya.
Definisi yang dikemukakan oleh DSM IV (1994) dalam Rosmala Dewi; 2005, retardasi mental merupakan gangguan yang ditandai oleh fungsi intelektual yang berfungsi secara bermakna dibawah rata-rata (IQ kira-kira 70 atau lebih rendah) yang bermula sebelum usia 18 tahun disertai deficit atau hendaknya fungsi adaptif (fungsi adaptif adalah kemampuan individu tersebut secara efektif menghadapi kebutuhan untuk berdikari yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya).
Sedangkan definisi yang dikemukakan oleh AAMD (The American Assosiation For Mental Deficiency), retardasi mental adalah keadaan dimana intelegensi umum berfungsi dibawah rata-rata, yang bermula sewaktu masa perkembangan dan disertai gangguan tingkah laku penyesuaian. Retardasi mental sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
a. Lemah fikiran ( Feeble-minded);
b. Terbelakang mental (Mentally Retarded);
c. Bodoh atau dungu (Idiot);
d. Pandir (Imbecile);
e. Tolol (Moron);
f. Oligofrenia (Oligophrenia);
g. Mampu Didik (Educable);
h. Mampu Latih (Trainable);
i. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
j. Mental Subnormal;
k. Defisit Mental;
l. Defisit Kognitif;
m. Cacat Mental;
n. Defisiensi Mental;
o. Gangguan Intelektual.
2. Klasifikasi Retardasi Mental
Pengklasifikasian/ penggolongan Anak Retardasi mental untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) dalam Maghdita Sekar, dkk 2007 sebagai berikut:
a. Educable
Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
b. Trainable
Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuanya untuk mendapat pendidikan secara kademik.
c. Custodial
Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.
DSM IV (1994) dalam Rosmala Dewi (2005) menjelaskan klasifikasi anak cacat mental sebagai:
a. Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69, adalah kelompok kecacatan yang dapat dididik. Pada usia dini anak dapat mengembnagkan kecakapan sosial dan komunikasi, namum mempunyai sedikit hambatan pada sensorimotornya.
b. Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40-54, adalah kelompok kecacatan yang dapat dilatih. Kelompok ini masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat, anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif.
c. Retardasi mental berat (severe mental retardation) dengan IQ: 20 – 39. sebagian anak cacat mental berat tidak mampu berkomunikasi dalam bentuk bahasa. Setelah usia sekolah mereka bicara dan dapat dilatih dalam keterampilan mengurus diri yang sederhana.
d. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Anak dengan cacat mental sangat berat menunjukkan gangguan yang berat baik dalam perkembangan sensorimotor, perkembangan motorik, kemampuan berkomunikasi, maupun dalam keterampilan mengurus diri sendiri. Umumnya mereka secara total tergantung pada lingkungan.

TINGKAT RETARDASI MENTAL, PERKIRAAN RENTANG IQ, DAN JENIS TINGKAH LAKU ADAPTIF YANG TERLIHAT
Tingkat Kisaran IQ Kemampuan Usia Prasekolah
(sejak lahir-5 tahun) Kemampuan Usia Sekolah
(6-20 tahun) Kemampuan Masa Dewasa
(21 tahun keatas)
Ringan 52-68 • Bisa membangun kemampuan sosial & komunikasi
• Koordinasi otot sedikit terganggu
• Seringkali tidak terdiagnosis • Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun
• Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial
• Bisa dididik • Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan
Moderat 36-51 • Bisa berbicara & belajar berkomunikasi
• Kesadaran sosial kurang
• Koordinasi otot cukup • Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan
• Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik • Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan
• Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan
Berat 20-35 • Bisa mengucapkan beberapa kata
• Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri
• Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit
• Koordinasi otot jelek • Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi
• Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana • Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan
• Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali
Sangat berat 19 atau kurang • Sangat terbelakang
• Koordinasi ototnya sedikit sekali
• Mungkin memerlukan perawatan khusus • Memiliki beberapa koordinasi otot
• Kemungkinan tidak dapat berjalan atau berbicara • Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara
• Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas
• Memerlukan perawatan khusus

3. Penyebab Retardasi Mental
Retardasi mental dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
a. Genetik.
1) Kerusakan/Kelainan Biokimiawi.
2) Abnormalitas Kromosomal (chromosomal Abnormalities).
Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 – 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 – 50.
b. Pada masa sebelum kelahiran (pre-natal).
1) Infeksi Rubella (Cacar)
2) Faktor Rhesus (Rh)
c. Pada saat kelahiran (natal)
Retardasi mental/ tunagraita yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir prematur.
d. Pada saat setelah lahir (post-natal)
e. Penyakit-penyakit akibat infeksi, misalnya: Meningitis (peradangan pada selaput otak) dan problema nutrisi yaitu kekurangan gizi misalnya: kekurangan protein yang diderita bayi dan awal masa kanak-kanak dapat menyebabkan retardasi mental.
f. Faktor sosio-kultural.
Sosio kultural atau sosial budaya lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan intelektual manusia.
g. Malnutrisi berat.
Kekurangan makanan bergizi semasa bayi dapat mengganggu pertumbuhan dan fungsi syaraf pusat. Malnutrisi ini kebanyakan terjadi pada kelompok ekonomi lemah.
h. Gangguan Metabolisme/Nutrisi.
1) Phenylketonuria. Gangguan pada metabolisme asam amino, yaitu gangguan pada enzym Phenylketonuria.
2) Gargoylisme. Gangguan metabolisme saccharide dalam hati, limpa kecil, dan otak.
3) Cretinisme. Gangguan pada hormon tiroid yang dikenal karena defisiensi yodium.
4. Karakteristik anak retardasi mental
Karakteristik anak retardasi mental menurut Brown et al, 1991; Wolery & Haring, 1994 pada Exceptional Children, fifth edition, p.485-486, 1996 dalam Maghdita Sekar, dkk (2007) menyatakan:
a. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
b. Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
c. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat.
d. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga retardasi mental berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala.
e. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
f. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
g. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll.
Sedangkan menurut S.M. Lumbantobing, 2001 dalam Rosmala Dewi, 2005, ada bebrapa karakteristik yang dapat dijadikan pertanda untuk mengenali anak retardasi mental, antara lain:
a. Sejak lahir perkembangan mentalnya terbelakang disemua aspek perkembangan, kecuali perkembangan motorik, misalnya mereka dapat berdiri, merangkak, dan berjalan.
b. Terbelakang dalam perkembangan bicara.
c. Kurang memberi perhatian terhadap sekitarnya, misalnya tidak bereaksi terhadap bunyi atau suara yang terdengar.
d. Kurang dapat berkonsentrasi. Perhatian terhadap mainan hanya berlangsung singkat atau kadang-kadang bila diberi mainan tidak mengacuhkannya.
e. Kesiagaannya kurang, misalnya jika mainan jatuh dihadapanya ia tidak berusaha untuk mengambilnya.
f. Kurang memberi respon terhadap lingkuangan jika dibanding dengan anak normal.
g. Usia 2-3 tahun masih suka memasukkan mainan ke dalam mulutnya.

C. PEMBAHASAN
1. HASIL OBSERVASI
a. Kondisi fisik anak dan orang tua
1) Kondisi fisik dan psikis anak
KR adalah anak laki-laki lahir tanggal 26 Mei 2002 (usia 7 tahun), dan duduk di kelas 1. KR adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, dapat di diskripsikan kondisi KR sebagai berikut:
a) Pada umumnya tidak ditemukan kelainan fisik yang menonjol pada diri KR. Akan tetapi, apabila diamati tubuh KR cendurung kurus dan kecil tidak seperti anak pada usia 7 tahun pada umumnya.
b) KR cenderung pendiam, tidak banyak bereaksi terhadap hal-hal yang ada disekitarnya, bahkan terhadap rangsangan bunyi-bunyian yang terdengar.
c) Kemampuan komunikasi KR cukup berkembang. Bicaranya jelas, akan tetapi cara bicaranya lambat dan pelan.
d) Karena KR merupakan anak yang terkecil di rumahnya, ia cenderung manja dan segala kemauannya ingin segera di penuhi.
e) KR sulit menerima pelajaran di sekolah dan sulit menerima materi kognitif. Jika di sekolah KR di temani oleh guru pendamping.
f) Daya ingatnya sangat kurang, susah untuk berkonsentrasi, serta perhatiannya tidak bisa fokus.
g) KR mengalami kesulitan belajar (learning disability). Ia belum bisa membaca dan menulis, apabila mengerjakan sesuatu terburu-buru dan ingin cepat selesai tetapi hasilnya tidak maksimal. Kalau diingatkan orang disekitarya, emosinya cenderung meluap-luap.
h) Gerak motorik kasarnya seperti anak-anak pada umumnya, bahkan lebih atraktif dan dapat bermain dengan anak normal lainnya. Bahkan sampai sekarang RM masih mengkonsumsi obat dari dokter, yang menurut keterangan ibunya, obat ini merupakan obat untuk anak hiperaktif.
i) KR bisa melakukan kegiatan merawat diri seperti memakai baju, makan, mandi walaupun dengan bantuan.
2) Kondisi fisik orang tua
Orang tua KR (ayah berusia 38 tahun, ibu juga berusia 38 tahun). Ayah bekerja sebagai guru, sedangkan ibu sebagai ibu rumah tangga. Berdasarkan pengamatan penulis, kondisi fisik orang tua KR normal, tidak mengalami gangguan yang berarti. Kondisi saudara KR juga normal.
b. Kondisi lingkungan sekitar
KR tinggal di lingkungan perkampungan dimana jauh dari keramaian kota. Depan rumah berupa jalan biasa, akan tetapi lalu lintasnya agak ramai yakni sering dilewati oleh kendaraan bermotor. Rumah KR tidak berada di dekat tempat-tempat keramaian seperti pasar, terminal, maupun pabrik.
c. Kondisi ekonomi orang tua
Kondisi ekonomi orang tua bisa dikatakan sebagai golongan menengah. Walaupun ibunya sebagai ibu rumah tangga, akan tetapi ayahnya sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap sebagai guru.
d. Adaptasi anak dengan orang lain/ teman
Kemampuan sosial anak cukup berkembang, kemampuan komunikasinya juga berkembang meskipun agak lamban. KR suka bermain dengan anak yang lebih muda darinya, yaitu suka bergaul dengan anak-anak TK dan dibawahnya. Akan tetapi di lingkungan baru, ia susah untuk menyesuaikan diri. Di lingkungan baru KR cenderung pendiam dan kurang berkomunikasi.
2. HASIL WAWANCARA
a. Riwayat kesehatan orang tua dan anak
1) Riwayat kesehatan anak
Kondisi kesehatan anak cenderung normal-normal saja, tidak ada penyakit serius yang diderita oleh anak tersebut. Penyakit yang pernah diderita hanya sebatas penyakit flu, batuk atau demam saja. Akan tetapi pada bulan agustus yang lalu KR menjalani opname di rumah sakit selama 1 minggu. KR di opname karena sakit demam, yang menurut keterangan dari ibunya karena imunisasi campak. Panasnya tinggi dan sempat kejang (step).
2) Riwayat kesehatan orang tua
Berdasarkan keterangan dari nara sumber, kondisi kesehatan orang tua normal. Tidak ada penyakit yang cukup serius. Akan tetapi untuk ibunya, terkadang mengalami hipertensi/ tekanan darah tinggi.
b. Riwayat pendidikan
1) Riwayat pendidikan anak
KR pernah mengalami pendidikan Taman Kanak-kanak di salah satu TK di kota Sukoharjo. KR juga pernah belajar di YPAC selama 3 tahun. Dan sekarang bersekolah di Sekolah Dasar, serta menjalani terapi di salah satu klinik senter anak berkebutuhan khusus di Surakarta.
2) Riwayat pendidikan orang tua
Pendidikan terakhir ayah adalah S1 keguruan, sedangkan pendidikan terakhir ibu adalah SMA.
c. Minat dan cita-cita anak
Berdasarkan keterangan dari orang tua KR, KR pernah mengungkapkan cita-citanya, walaupun dianggap aneh oleh orang tuanya. KR ingin menjadi robot, tentara, dan menjadi seperti mainan. Karena keseharian KR bermain di rumah bersama alat-alat permainan di rumahnya, jadi menurut ibunya karena itulah KR bercita-cita seperti tersebut diatas.
d. Pola asuh
KR sangat dekat dengan seluruh anggota keluargnya. Bahkan kemanapun KR pergi sering ditemani oleh ibunya. Selain dekat dengan ibunya KR juga dekat dengan ayah dan kakaknya. Karena kondisi KR tersebut, ia cenderung dimanjakan oleh ibunya. Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa apabila keinginannya tidak dituruti KR akan cenderung emosional.
e. Kondisi prenatal, natal, dan post natal
1) Kondisi prenatal
Kondisi prenatal adalah kondisi sebelum kelahiran atau kondisi pada saat kehamilan. Pada dasarnya kondisi kehamilan ibu RM normal dan baik-baik saja. Ibu RM hamil pada usia sekitar 32 tahun. Mengandung RM adalah merupakan kehamilan yang kedua dimana jarak dengan kehamilan sebelumnya adalah 8, 5 tahun. Akan tetapi menurut keterangan nara sumber, ibu RM terkadang mengidap tekanan darah tinggi pada saat hamil walaupun tidak begitu sering.
Pada saat kehamilan, nutrisi ibu juga tercukupi. Ibu tersebut juga tidak mengkonsumsi obat-obatan yang berlebihan, merokok, maupun minum alcohol.
2) Kondisi natal
Kondisi natal adalah kondisi saat kelahiran. Proses kelahiran RM adalah normal, tidak di vakum, di pacu maupun cessar. Akan tetapi proses kelahiran KR memakan waktu yang sangat lama yaitu mencapai 1 hari 1 malam.
3) Kondisi post natal
Kondisi post natal adalah kondisi setelah kelahiran. Pada masa setelah kelahiran/ pada waktu bayi RM tidak mengidap penyakit tertentu yang cukup berarti, baik penyakit karena infeksi, virus, maupunyang lainnya.
Menurut keterangan nara sumber yang dapat dipercaya, KR pada waktu bayi sering menangis dan susah untuk diam. Menangis baik karena haus, lingkungan yang panas, ngompol, dll. Pada waktu itu ibu juga sempat bingung kenapa anak sering menangis dan susah diamnya, namun lama-kelamaan ibu dan bapaknya mengabaikannya, karena mereka anggap bahwa anak bayi menangis itu wajar-wajar saja.
3. DIAGNOSA
Diagnosa adalah suatu proses untuk mengetahui faktor penyebab suatu kejadian. Proses diagnosa terhadap anak penderita retardasi mental ini, dilakukan oleh penulis dengan cara observasi dan wawancara kepada pihak yang terkait dengan anak penderita retardasi mental.
Seorang anak retardasi mental menunjukkan perkembangan yang secara signifikan lebih lambat dibandingkan dengan anak lain yang sebaya. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, didapatkan ciri-ciri KR yang menunjukkan kriteria anak retardasi mental, antara lain:
a. Kurang dapat menangkap hal-hal yang baru maupun pengetahuan baru. Belum bisa membaca dan menulis di usia 7 tahun.
b. Kurang dapat berkonsentrasi, dan memori yang sangat pendek.
c. Tidak peka terhadap rangsangan dari luar termasuk terhadap rangsangan berupa bunyi-bunyian dan suara.
d. Perkembangan bicara yang berkembang aagak lambat dibandingkan anak-anak sebayanya.
e. Suka bermain/ bergaul dengan anak-anak yang lebih muda/ dibawah umurnya.
f. Bisa melakukan kegiatan perwatan diri tetapi dengan bantuan dari orang lain.
g. Emosi yang kurang bisa dikendalikan. Tergesa-gesa dan terkadang emosional apabila keinginan tidak di turuti.
Dari ciri-ciri diatas, penulis mendiagnosa bahwa anak yang bernama KR menderita Retardasi Mental Sedang (Moderat), dimana
kelompok ini masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat, anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis, ditemukan penyebab terjadinya keterbelakangan mental yang terjadi pada diri KR, yaitu antara lain:
a. Pada kondisi prenatal/ pada waktu dalam kandungan, ibu KR mengidap tekanan darah tinggi.
b. Proses kelahiran KR yang begitu lama memungkinkan terjadinya luka-luka pada proses kelahiran yang dapat menyebabkan terjadinya retardasi mental pada anak tersebut.
c. Pada kondisi post natal/ setelah kelahiran/ pada masa bayi KR selalu menangis dan keadaan itu diabaikan oleh orang tuanya.
d. Kurangnya rangsangan pada waktu masih bayi, yakni KR dibiarkan menangis secara berlebihan dan diabaikan oleh orang tuanya. Hal ini memungkinkan terjadinya ketidak pekaan terhadap rangsangan yang luar.
e. Kondisi lingkungan perkampungan yang masih agak primitif sehingga memungkinkan kurangnya pengetahuan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai untuk anak, maupun pada saat ibu dalam masa kehamilan.
4. PROGNOSA
Prognosa merupakan penyusunan rencana alternatif pelaksanaan terapi/ bimbingan mulai dari jenis terapi yang sesuai dengan kondisi anak. Prognosa untuk penderita retardasi mental relatif stabil dari masa kanak – kanak sampai dengan dewasa. Untuk penderita dengan kategori moderate ini kemungkinan dapat berhasil disembuhkan, walaupun membutuhkan pendidikan, komunitas, dukungan keluarga, dan pelatihan vokasional.
Adapun kasus yang terjadi pada KR, berdasarkan diagnosa yang dilakukan oleh penulis, dapat di ambil kesimpulan bahwa prognosa ini bersifat positif yang berarti bahwa retardasai mental yang diderita oleh KR mempunyai kemungkinan untuk sembuh karena terdapat kondisi-kondisi yang mendukung kesembuhannya. Kondisi itu antara lain:
a. Orang tua, keluarga dan pihak sekolah menyadari akan kekurangan pada diri KR dan berusaha untuk menyembuhkannya. Hal ini akan sangat mendukung kesembuhan KR.
b. Orang tua sudah mengikutkan KR pada proses terapi, hal ini memungkinkan kesembuhan pada KR karena ditangani oleh pihak yang berkompeten.
c. Disekolah KR didampingi oleh guru pendamping khusus, hal ini lebih meningkatkan pengawasan serta latihan-latihan yang lebih intensif.
Dilihat dari kondisi yang terjadi pada diri KR, rencana perlakuan/ terapi yang tepat untuk KR antara lain:
a. Okupasi terapi untuk mengatasi permasalahan pada aspek sensori motorik, fisik, kognitif, intrapersonal-interpersonal, parawatan diri/ Activity Daily Living (ADL), dan produktivitas.
b. Treatmen yang berupa terapi keluarga, tujuan terapi ini untuk membantu anggota keluarga untuk memahami tentang retardasi mental.
c. Terapi kelompok, merupakan format yang baik sehingga membuat mereka belajar dalam kehidupan nyata mereka dan menerima umpan balik.
d. Terapi tingkah laku berguna untuk membentuk tingkah laku sosial, mengontrol perilaku agresif atau tingkah laku yang merusak.
5. INTERVENSI/ TREATMEN/ PERLAKUAN
Treatmen yang dapat diberikan kepada anak retardasi mental adalah:
a. Occuppasional Therapy (okupasi terapi)
American Occupational Therapy Assosiation (Muryanto: 1989 dalam Sujarwanto: 2005) mengemukakan Terapi Okupasi adalah suatu perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan untuk menunjukkan jalan dari respon penderita dalam bentuk kegiatan yang sudah diseleksi yang digunakan untuk membantu dan memelihara kesehatan, menanggulangi kecacatan, menganalisa tingkah laku, memberikan latihan dan melatih pasien menderita kelainan fisik, mental serta fungsi sosialnya.
Sesuai dengan problema yang dialami anak retardasi mental yaitu pada aspek sensori motorik, fisik, kognitif, intrapersonal-interpersonal, parawatan diri/ Activity Daily Living (ADL), produktivitas, maka kegiatan terapi okupasi diarahkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.
1) Sensori motorik
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek sensori motor. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Meraba benda keras dan lunak
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan sensori perabaan agar dapat berkembang seoptimal mungkin.
Tujuan khusus : melatih anak membedakan benda keras, lunak.
Kegiatan : membedakan benda keras dan lunak
Waktu : 1 x pertemuan 30 menit
Pelaksanaan : anak disuruh meraba benda keras maupun lunak/ halus sesuai bimbingan guru.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat membedakan benda keras dengan benda lunak atau tidak? Apakah selama mengikuti latihan anak senang atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila selama mengikuti latihan tidak ada perkembangan dan anak-anak tidak merasa senang, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.

2) Fisik
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek fisik. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Naik sepeda statis
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan kesegaran fisik agar dapat berkembang seoptimal mungkin.
Tujuan khusus : melatih kekuatan otot kaki, tangan.
Kegiatan : mengayuh sepeda
Waktu : 1 x pertemuan 30 menit
Pelaksanaan : dilakukan tes kekuatan otot (muscle test), anak disuruh mengayuh sepeda statis dibimbing guru. Pada saat pelaksanaan latihan mengayuh sepeda diselingi istirahat.
Evaluasi : dilakukan test kekuatan otot (muscle test). Selama mengikuti kegiatan ada peningkatan kekuatan otot kaki, otot tangan atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila kekuatan otot kaki, otot tangan tidak meningkat, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.
3) Kognitif
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek kognitif. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Senam diiringi musik
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan kognitif
Tujuan khusus : memusatkan perhatian pada focus (senam diiringi musik).
Kegiatan : senam irama
Waktu : 1 x pertemuan 30 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh gerakan senam diiringi musik, anak disuruh melakukan senam diiringi musik dibimbing guru.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat senam diiringi musik atau tidak? Apakah selama mengikuti latihan anak senang atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak mengikuti senam diiringi musik, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.
4) Intrapersonal-Interpersonal
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek intrapersonal-interpersonal. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Bermain layang-layang
Tujuan umum : mengembangkan interpersonal-intrapersonal
Tujuan khusus : menghilangkan rendah diri, melatih sosialisasi
 Kegiatan : Bermain layang-layang
Waktu : 1 x pertemuan 30-45 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh cara memainkan layang-layang, anak disuruh bermain laying-layang.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat memainkan laying-layang atau tidak? Apakah selama mengikuti latihan anak senang atau tidak? Apakah anak dapat berkomunikasi dengan teman atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak dapat memainkan laying-layang dan tidak dapat berkomunikasi dengan temanya, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi
5) Parawatan diri/ activity daily living (ADL)
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek Parawatan diri/ activity daily living (ADL). Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Memakai baju
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan merawat diri sendiri
Tujuan khusus : meningkatkan kemampuan memakai baju sendiri
Kegiatan : memakai baju
Waktu : 1 x pertemuan 15-20 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh cara menanam bunga, anak disuruh menanam bunga di kebun
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat melakukan pekerjaan berkebun atau tidak? Selam mengikuti kegiatan anak merasa senang atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak melakukan kegiatan berkebun, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi
6) Produktivitas
Terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan aspek produktivitas. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya:
 Berkebun
Tujuan umum : mengembangkan kemampuan ketrampilan produktif
Tujuan khusus : mengembangakan kemampuan berkebun
Kegiatan : menanam bunga
Waktu : 1 x pertemuan 30-45 menit
Pelaksanaan : guru memberi contoh cara memakai baju dengan benar, anak disuruh memakai baju dengan benar.
Evaluasi : evaluasi dilakukan melalui pengamatan sejak awal sampai latihan berakhir. Apakah anak dapat memakai baju atau tidak?
Revisi program : berdasarkan evaluasi apabila anak tidak dapat memakai baju dengan benar, maka program harus ditinjau ulang/ direvisi.
b. Play therapy (Terapi bermain)
Terapi yang diberikan kepada anak retardasi mental dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.
c. Life Skill (Keterampilan hidup)
Anak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator. Bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.
d. Vocational Therapy (Terapi Bekerja)
Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.
6. HUBUNGAN ANTARA TEORI DENGAN KASUS
Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh penulis. Ditemukan hal-hal yang relevan maupun tidak relavan antara kasus dengan teori yang dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain:
a. Berdasarkan karakteristik
1) KR sulit menerima pengetauan dan memeori yang sangat pendek. Hal ini sesuai dengan teori bahwa anak retardasi mental lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
2) Kemampuan bicara KR cukup berkembang. Dalam hal ini menurut teori keadaan KR tersebut masuk dalam klasifikasi retardasi mental sedang (moderat), karena anak RM berat kemampuan bicaranya sangat rendah.
3) Dalam teori anak RM kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, akan tetapi dalam kasus yang dialami KR dia dapat melakukan kegiatan perawatan diri walaupun dengan sedikit bantuan dari orang disekitarnya.
4) Teori menyebutkan bahwa anak penderita RM bertingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll. Hal ini tidak terjadi pada kasus yang dialami oleh KR.
5) Kurang memberi perhatian terhadap sekitarnya, misalnya tidak bereaksi terhadap bunyi atau suara yang terdengar. Berdasarkan teori menurut DSM IV (1994) tersebut diatas sesuai dengan keadaan yang dialami oleh KR yakni tidak menghiraukan lingkungan disekitarnya, dia sibuk dengan keinginannya sendiri.
6) Menurut DSM IV (1994) anak penderita RM kurang dapat berkonsentrasi. Hal ini sesuai dengan kasus yang dialami oleh RM yakni dia sangat sulit untuk berkonsentrasi dan sering tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu hal.
7) Kesiagaannya kurang, misalnya jika mainan jatuh dihadapanya ia tidak berusaha untuk mengambilnya. Karakteristik menurut teori ini tidak muncul pada diri KR.
8) Usia 2-3 tahun masih suka memasukkan mainan ke dalam mulutnya. Menurut teori ini tidak terjadi pada kasus yang dialami oleh KR.
b. Berdasarkan faktor penyebab
1) Berdasarkan kasus yang dialami oleh KR bahwa retardasi mental yang dideritanya disebabkan oleh kondisi prenatal yaitu ibu yang menderita tekanan darah tinggi. Hal ini sesuai dengan teori dimana ibu penderita tekanan darah tinggi beresiko melahirkan anak dengan keterbelakangan mental/ retardasi mental.
2) Pada proses kelahiran KR memakan waktu cukup lama, sehingga memungkinkan terjadinya luka-luka pada saat kelahiran. Hal ini dapat menyebabkan adanya kecacatan mental. Kondisi ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa retardasi mental/ tunagrahita dapat disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran seperti luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir prematur.
3) Salah satu penyebab KR menderita retardasi mental salah satunya adalah kondisi lingkungan perkampungan yang masih agak primitif sehingga kurangnya pengetahuan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai untuk anak, maupun pada saat ibu dalam masa kehamilan. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa retardasi mental dapat disebabkan oleh lingkungan sekotar dan kurangnya pemenuhan zat gizi tertentu.
c. Berdasarkan klasifikasi anak RM
Klasifikasi anak cacat mental menurut DSM IV (1994) dalam Rosmala Dewi (2005) menjelaskan bahwa retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40-54, adalah kelompok kecacatan yang dapat dilatih. Kelompok ini masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat, anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif. Hal ini sesuai dengan kondisi yang terjadi pada diri KR, dimana kemampuan bicaranya cukup berkembang dan dapat mengurus/ merawat diri walau agak lambat. Oleh karena itu berdasarkan teori dan pengamatan dari penulis KR masuk dalam klasifikasi retardasi mental sedang (moderate) dan membutuhkan pelatihan dan terapi yang intensif untuk membantu perkembangannya.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Retardasi mental ialah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat intelligensi yang dibawah rata-rata (IQ kira-kira 70 atau lebih rendah) serta kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan social.
b. Factor penyebab keterbelakangan mental/ retardasi mental ada berbagai macam antara lain kondisi sebelum kelahiran (pre-natal), pada saat kelahiran (natal), pada saat setelah lahir (post-natal), penyakit-penyakit akibat infeksi, serta faktor sosio-kultural termasuk kondisi lingkungan dan tingkat pendidikan orangtua.
c. Keterbelakangan mental atau retardasi mental dapat diklasifikasikan menjadi 4 antara lain Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69 yakni kecacatan yang dapat dididik, retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40-54 yakni kecacatan yang dapat dilatih, retardasi mental berat (severe mental retardation) dengan IQ: 20 – 39 dimana tidak mampu berkomunikasi dalam bentuk bahasa serta retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 biasaya mereka secara total tergantung pada lingkungan.
d. Diagnosis kepada anak retardasi mental dapat dilakukan dengan wawancara dan obeservasi tentang keadaan fisik, keadaan prenatal, natal, dan postnatal, keadaan lingkungan sekitar anak, serta melakukan test IQ berdasarkan standar yang telah ditentukan. Setelah mendapatkan data-data kemudian dilakukanlah penelusuran factor yang menyebabkan kelainan pada anak retardasi mental tersebut.
e. Prognosis untuk penderita retardasi mental relatif stabil dari masa kanak – kanak sampai dengan dewasa. Untuk penderita dengan kategori mild sampai moderate kemungkinan dapat berhasil disembuhkan, walaupun mereka membutuhkan pendidikan, komunitas, dukungan keluarga, dan pelatihan vokasional. Akan tetapi untuk penderita retardasi mental severe dan profound, kemungkinan berkembang cukup sulit. Mereka mempunyai harapan hidup yang pendek, karena masalah kesehatannya.
f. Terapi yang dapat diterapkan untuk anak dengan keterbelakangan mental antara lain Occuppasional Therapy (Terapi okupasi), Play therapy (Terapi bermain)
activity Daily Living (ADL) atau Kemampuan Merawat Diri, Life Skill (Keterampilan hidup), Vocational Therapy (Terapi Bekerja).

2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:
a. Bagi orang tua dan guru hendaknya dapat mendeteksi adanya keterbelakangan mental pada anak atau anak didiknya sejak dini agar dapat memberikan pendidikan dan terapi yang tepat bagi perkembangan anak.
b. Bagi orang tua yang memiliki anak retardasi mental tidak perlu malu menerima keadaan anaknya dan mengusahakan konsultasi dengan pihak yang berkompeten agar dapat memberikan pendidikan yang tepat dan dukungan yang baik bagi anak.
c. Pihak-pihak yang terkait hendaknya menerapkan terapi yang tepat untuk tumbuh kembang anak yang optimal meski memiliki kebutuhan khusus.

motivasi dan keberbakatan

KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN

OLEH KELOMPOK:

Nama:

1.       Mila Faila Shofa              (A520085046)

2.       Nestya Dyah Anggraini (A520085016)

3.       Sri Rejeki                         (A520085004)

4.       Dewi Indratini                 (A520085006)

5.       Susilowati                         (A520085003)

6.       Afriyan Qoharani           (A520085005)

 

1.      Hubungan antara motivasi dan keberbakatan.

Hubungan antara motivasi bisa di katakan sangat erat, dengan alasan bahwa keberbakatan mensyaratkan keterkaitan antar 3 faktor pribadi (Renzulli, 1981 dalam Utami Munandar, 2002) yaitu:

a.       Kemampuan di atas rata-rata (intelligensi)

b.      Kreativitas

c.       Motivasi/ pengikatan diri terhadap tugas

Khususnya untuk karakteristik yang ketiga adalah pengikatan diri terhadap tugas, merupakan bentuk motivasi internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya meskipun mengalami hambatan atau rintangan. Menyelesaikan tugas adalah tanggung jawabnya karena pribadi yang berbakat telah mengikat dirinya terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri. Galton (dalam Vernon, 1982 dalam Utami Munandar, 2002). Meskipun menganut pandangan dasar genetic untuk keberbakatan, namun ia percaya bahwa motivasi intrnsik dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.

Banyak anak yang mempunyai potensi intelektual dan kreativitas yang tinggi tidak berprestasi sesuai dengan potensi unggulannya karena kurangnya motivasi. Oleh karena itu motivasi sangat mempengaruhi perkembangan anak yang berbakat. Anak berbakat tidak akan bisa mewujudkan potensi bakatnya tanpa adanya motivasi.

Untuk pengembangan keberbakatan secara optimal, selain perlunya motivasi intrinsik seperti penjelasan di atas, motivasi dari luar/ motivasi ekstrinsik juga sangat berperan. Anak berbakat memerlukan motivasi dari lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Motivasi disini berupa dorongan kepada anak, agar anak berbakat dapat memunculkan potensi unggulannya.

Berikut ini beberapa contoh bentuk motivasi yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk membantu dan membina anak berbakat:

  1. Mengajarkan anak untuk mengharapkan keberhasilan
  2. Menyesuaikan pendidikan anak dengan minat dan gaya belajarnya.
  3. Memberi pengertian kepada anak bahwa belajar memerlukan keuletan untuk mencapai keberhasilan.
  4. Menanamkan kepada anak untuk belajar menghadapi kegagalan.

2.      Pengertian stimulasi sikap inovatif

Stimulasi sikap inovatif adalah rangsangan yang diberikan kepada anak usia dini khususnya anak berbakat, agar anak mempunyai sikap inovatif, yakni sikap dimana anak mampu menghasilkan sesuatu yang baru, mempunyai kelancaran, kelenturan atau keluwesan dalam berpikir, orisinalitas dalam berpikir serta mengungkapkan ide-idenya untuk mengatasi permasalahan.

Cara membangun dan mengembangkan

a.       Memberi kepercayaan terhadap kemampuan anak untuk berpikir dan berani mengemukakan gagasan baru.

b.      Memberi kesempatan kepada anak untuk bekerja sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

c.       Memberi kesempatan kepada anak untuk belajar atas prakarsanya sendiri.

d.      Memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada anak usia dini, dimana meminimalkan jawaban ya atau tidak. Hal ini untuk menggali gagasan dan ide anak agar anak dapat berpikir inovatif dan menghasilkan hal-hal baru

e.       Sekolah yang tidak hanya menjejalkan pengetahuan semata, otak  anak tidak hanya menjadi bank informasi, tetapi guru memberi banyak rangsangan sehingga anak bisa berpikir inovatif

f.       Mengusahakan pembelajaran yang menyenangkan kepada anak dan memberikan pengalaman kepada anak, sehingga memberikan inspirasi dan mendukung anak untuk mempunyai ide dan sikap yang inovatif.

3.      Lingkungan yang kondusif dalam pengembangan keberbakatan dan sikap inovatif pada anak usia dini

Pengembangan keberbakatan dan sikap inovatif pada anak usia dini sulit dilakukan tanpa adanya lingkungan yang kondusif. Adapun lingkungan yang mendukung dalam pengembangan keberbakatan dan sikap inovatif pada anak usia dini antara lain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

a.       Lingkungan keluarga

Pendidikan dalam keluarga merupakan awal pengembangan bakat anak usia dini, oleh karena itu alangkah baiknya apabila dalam lingkungan keluarga, khususnya orang tua menciptakan situasi yang kondusif dalam pengembangan bakat dan sikap inovaif pada anak usia dini. Berikut ini beberapa faktor penentu dalam mengembangkan keberbakatan dan sikap inovatif di lingkungan keluarga:

  • Kebebasan

Orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak cenderung mempunyai anak kreatif atau besikap inovatif.

  • Respek

Orang tua menghormati anak sebagai individu, percaya akan kemampuan anak, dan menghargai keunikan anak. Apabila orang tua bersikap seperti ini maka anak secara alamiah mengembangkan kepercayaan diri untuk berani melakukan sesuatu yang orisinil dan potensi bakatnya akan muncul.

  • Kedekatan emosi yang sedang

Bakat dan sikap inovatif anak akan terhambat dengan suasana rasa permusuhan, penolakan, atau rasa terpisah. Tetapi emosi yang berlebih jugatidak menunjang pengembangan bakat dan sikap inofatif anak. Oleh karena itu anak perlu merasa bahwa ia disayangi dan diterima tetapi tidak terlalu tergantung kepada oranng tua.

  • Menghargai prestasi anak

Orang tua harus mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya dan menghasilkan karya yang terbaik, bukan terlalu menekankan pada nilai tinggi.

  • Orang tua aktif dan mandiri

Bagaimana sikap orang tua terhadap diri sendiri amat penting karena orang tua menjadi model utama bagi anak. Oleh karena itu orang tua harus percaya diri dan menpunyai kompeten baik di dalam maupun di luar rumah.

  • Menghargai kreatifitas

Dalam mengembangkan bakat anak, ortang tua harus mendorong anak untuk berbuat kreatif dan menghargai kreativitas anak tersebut.

b.      Lingkungan sekolah

Dalam lingkungan sekolah, yang berperan dalam pengembangan bakat dan sikap inovatif anak terutama adalah guru. Berikut ini usaha guru agar dapat menciptakan lingkungan yang kondusif di sekolah:

  • Menanamkan kepada anak bahwa belajar itu penting, guru juga harus menciptakan situasi belajar yang menyenangkan.
  • Guru harus menghargai anak dan menyayanginya sebagai pribadi yang unik.
  • Guru hendaknya menjadi fasilitator bagi anak. Biarkan anak aktif, guru hanya mendorong untuk membawa pengalaman, gagasan untuk menggali minak dan bakat anak.
  • Guru hendaknya merangsang anak untuk mengungkapkan pendapat dan memunculkan bakat serta sikap inovatifnya, usahakan di sekolah tidak ada tekanan dan ketegangan.
  • Anak diberi kebebasan untuk mendiskusikan masalah secara terbuka baik dengan guru maupun dengan teman sebayanya.
  • Guru hendaknya menempatkan diri sebagai teman bagi anak usia dini dan bersikap demokratis, bekerjasama serta memberi perhatian perorangan demi pengembangan baka dan sikap inovatif anak.

c.       Lingkungan masyarakat

Suatu masyarakat yang berdasarkan hukum-hukum yang adil, memungkinkan kondisi ekonomi dan psikologis yang paling baik bagi warga negaranya, merupakan lingkungan yang kondusif dalam pertumbuhan bakat dan sikap inovatif. Studi dari Gray (dikutip Arteri, 1976 dalam Utami Munandar, 2002) menunjukkan bahwa masyarakat yang sejahtera akan memupuk kreativitas dan keberbakatan. Lingkungan masyarakat  yang menunjang pengembangan bakat dan sikap inovatif bagi anak usia dini mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Tersedianya sarana dan prasarana kebudayan, khususnya bagi anak usia dini
  • Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
  • Kesempatan bebas terhadap media kebudayaan
  • Menghargai dan dapat memadukan rangsangan dari kebudayaan lain
  • Adanya toleransi terhadap pendapat tingkah laku anak yang berbeda-beda.
  • Masyarakat hendaknya memberikan penghargaan dan penguatan bagi anak yang berbakat.
  • Masyarakat menyediakan kursus, pelatihan, sanggar, dan lain sebagainya untu memupuk bakat dan talenta anak dalam berbagai bidang
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.